Tuhanku,
di tepi malam aku bersimpuh,
membawa luka yang tak sanggup kusembuhkan sendiri.
Aku datang dengan wajah tertunduk,
membawa dosa yang menumpuk,
seperti gunung yang hendak runtuh,
seperti ombak yang menelan perahu.
Aku mendengar firman-Mu:
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Dan hatiku bergetar,
karena aku tahu,
kalimat itu bukan sekadar janji,
melainkan pelukan bagi jiwa-jiwa yang karam.
Maka aku datang,
mengembalikan nafasku yang sisa ini,
sebagai tanda:
aku masih ingin Engkau.
Tuhanku,
aku pernah berlari menjauhi-Mu,
mengejar fatamorgana dunia,
hingga kakiku terluka,
hatiku haus,
jiwaku hampir mati.
Aku pernah menukar cahaya dengan bayangan,
menjual kebenaran dengan kesenangan sesaat,
menukar doa dengan kelalaian,
hingga aku hampir kehilangan diriku sendiri.
Namun Engkau, ya Allah,
tidak pernah menutup pintu.
Engkau menegurku dengan lembut,
Engkau memukul hatiku dengan ujian,
Engkau mengetuk batinku dengan musibah,
agar aku kembali.
Maka aku menangis di hadapan-Mu.
Tangisku bukan sekadar air mata,
tetapi darah dari penyesalan yang dalam.
Aku mengaku, ya Allah:
tiada kebaikan pada diriku,
tiada kesucian pada nafasku,
tiada kekuatan pada langkahku,
selain jika Engkau yang menanamkannya.
Aku bersujud,
mengingat sabda kekasih-Mu ﷺ:
"Setiap anak Adam penuh dengan dosa,
namun sebaik-baiknya orang berdosa adalah yang bertobat."
Dan aku ingin menjadi yang terbaik dari yang buruk,
meski aku tahu betapa hinanya diriku.
Tuhanku,
aku malu mengangkat wajahku,
tapi aku tak punya tempat lain.
Aku malu memanggil nama-Mu,
tapi aku tahu hanya Engkau yang bisa menyelamatkan.
Maka biarlah aku menangis,
hingga setiap tetes air mata menjadi saksi,
bahwa aku pulang.
Setelah tobat,
hatiku menjadi ladang kosong.
Dan Engkau, ya Allah,
menyiramnya dengan benih cinta.
Cinta itu tumbuh,
merambat ke seluruh pori-pori jiwa.
Aku merasakan getar yang aneh,
seperti api yang membakar namun menyejukkan.
Aku ingin Engkau lebih dari segalanya,
aku merindu-Mu lebih dari rindu seorang kekasih,
aku haus akan-Mu lebih dari dahaga musafir di padang tandus.
Bukankah Engkau telah berfirman:
"Dan orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah."
Maka aku ingin tergolong dalam mereka.
Aku ingin cintaku melampaui cinta pada dunia,
melampaui cinta pada diri sendiri.
Tuhanku,
ada malam-malam ketika aku berdiri dalam doa,
dan tubuhku bergetar oleh rindu.
Aku membaca nama-Mu,
dan seolah segala sesuatu selain-Mu lenyap.
Aku tenggelam dalam cahaya,
hingga aku lupa siapa aku.
Aku paham kini,
mengapa Rabi‘ah berkata:
“Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka,
dan tidak pula karena ingin surga,
tapi karena Engkau layak dicintai.”
Aku ingin berada di jalan itu, ya Allah.
Namun cintaku tak lengkap
tanpa cinta pada kekasih-Mu, Muhammad ﷺ.
Wahai Rasulullah,
engkau adalah rahmat bagi semesta,
cahaya yang menuntun dari kegelapan,
obor di tengah malam panjang.
Engkau bukan sekadar manusia,
engkau adalah cermin sempurna dari kasih Tuhanku.
Aku ingin menulis syair seperti Hasan bin Tsabit,
yang menyanjungmu dengan tinta emas:
“Belum pernah mataku melihat seorang yang seindah engkau,
dan belum pernah wanita melahirkan seseorang seindah engkau.
Engkau diciptakan tanpa cacat,
seakan-akan engkau diciptakan sebagaimana engkau kehendaki.”
Namun aku sadar,
setiap kata yang kutulis
adalah debu dibandingkan cahaya akhlakmu.
Sungguh, engkau adalah Al-Qur’an yang berjalan,
engkau adalah doa yang hidup,
engkau adalah kasih sayang yang menjelma dalam rupa manusia.
Wahai Rasulullah,
aku ingin duduk di bawah naunganmu,
aku ingin meneguk telaga kautsar darimu,
aku ingin engkau mengenaliku di hari kiamat,
meski aku hanyalah hamba yang hina.
Engkau pernah bersabda:
"Seseorang akan bersama dengan siapa yang ia cintai."
Maka aku menggenggam sabda itu,
seperti seorang karam menggenggam pelampung.
Ya Rasulullah,
aku mencintaimu.
Aku berharap cintaku ini,
walau hina, walau penuh noda,
akan menjadi jalan bagiku untuk bersamamu.
Namun cinta bukan hanya manis.
Di baliknya ada gemetar,
ada takut,
ada rasa kecil yang tak bisa kutepis.
Aku takut pada murka-Mu, ya Allah.
Aku takut pada hari ketika catatan amal dibuka,
dan setiap dosa yang kusangka kecil
ternyata menjadi gunung yang menindihku.
Aku takut pada api neraka,
yang bahan bakarnya manusia dan batu.
Tapi di sisi lain,
aku berharap pada ampunan-Mu.
Aku menggantungkan harapanku pada kasih-Mu,
yang lebih luas dari langit dan bumi.
Aku berpegang pada firman-Mu:
"Rahmat-Ku mendahului murka-Ku."
Maka aku berjalan di jalan yang sempit,
antara takut dan harap,
antara gemetar dan rindu.
Itulah jalan seorang hamba,
jalan yang penuh air mata,
namun juga penuh cahaya.
Dalam sujudku yang panjang,
aku mulai merasakan sesuatu yang sulit kulukiskan.
Bukan lagi sekadar doa,
bukan lagi sekadar kata-kata.
Ada kesadaran,
bahwa Engkau selalu dekat.
Bukankah Engkau telah berfirman:
"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Maka aku bergetar.
Aku merasa Engkau melihatku,
mendengarku,
mengetahui bisikan hatiku.
Inilah muraqabah.
Dan kadang,
dari rasa diawasi itu lahirlah musyahadah:
aku merasa melihat-Mu dengan mata hati,
meski Engkau tak terjangkau oleh penglihatan.
Itulah yang diajarkan Rasulullah ﷺ
ketika menjelaskan ihsan:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah
seakan-akan engkau melihat-Nya.
Jika engkau tidak melihat-Nya,
maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.”
Dan aku ingin hidup di bawah naungan ihsan itu.
Akhirnya,
aku sampai pada ujung perjalanan: fana.
Aku kehilangan diriku.
Aku lupa pada jasadku,
lupa pada keinginanku,
lupa pada segala sesuatu selain-Mu.
Aku lenyap,
seperti tetes hujan yang larut dalam samudra.
Aku padam,
seperti lilin di hadapan matahari.
Namun dari fana lahirlah baqa.
Aku hidup kembali,
tapi bukan dengan diriku,
melainkan dengan-Mu.
Aku berjalan dengan-Mu,
aku mendengar dengan-Mu,
aku mencintai dengan-Mu.
Aku memahami sabda-Mu dalam hadis qudsi:
“Apabila Aku mencintai hamba-Ku,
Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar,
penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat,
tangannya yang ia gunakan untuk memegang,
dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”
Inilah puncak segala rindu:
lenyap dalam-Mu,
tetap dengan-Mu.
Tuhanku,
aku bukan siapa-siapa.
Aku hanya debu di jalan panjang ini.
Namun aku yakin,
Engkau tidak melihat siapa aku,
tetapi bagaimana aku datang.
Aku datang dengan hati yang remuk,
dengan cinta yang terbakar,
dengan takut yang gemetar,
dengan harap yang menggantung,
dengan rindu yang tak pernah padam.
Aku menutup syairku dengan doa:
Ya Allah, jadikan cintaku kepada-Mu
lebih besar daripada cintaku pada segala sesuatu.
Jadikan kerinduanku kepada-Mu
lebih kuat daripada kerinduanku pada siapa pun.
Dan jadikan aku bersama Rasul-Mu ﷺ,
di dunia ini dengan sunnahnya,
dan di akhirat kelak dengan syafa‘atnya.
Karena aku tahu,
aku tidak punya bekal apa-apa,
selain cinta.
0 Response to "Pujian dalam Cahaya Allah dan Rasulullah"
Post a Comment