Ketika Huruf Bicara — Malam Sunyi, Jiwa yang Berdebu
Renungan malam tentang Alif Lām Mīm, rahmat Allah yang meliputi segalanya, dan perjalanan pulang hati melalui ayat-ayat Al-Qur’an serta hadis Nabi ﷺ.
PROLOG: Malam Sunyi, Jiwa yang Berdebu
(Latar: Malam hening. Lampu temaram. Hujan baru reda, meninggalkan aroma tanah basah. Sajadah terhampar. Di atasnya, sebuah mushaf terbuka. Udara dingin menusuk, tapi ada hangat yang samar di relung hati.)
Malam seperti menahan napasnya. Detik jam terdengar seperti palu yang mengetuk dinding jiwa. Aku menatap halaman yang terbuka. Di sana, huruf-huruf itu berdiri tegak, tanpa arti yang mampu kucerna.
“Alif Lām Mīm.”
Aku ulang perlahan. “Alif… Lām… Mīm.”
Tiga huruf yang seakan tak memberi makna, tapi justru menenggelamkanku dalam misteri. Seolah mereka berkata: “Tak semua harus kau pahami. Ada rahasia yang dimaksudkan untuk membuatmu tunduk, bukan untuk kau telanjangi.”
Lalu ayat berikut menyeruak, seperti cahaya yang menembus kelam:
“Allāhu lā ilāha illā Huwa, al-Ḥayyul Qayyūm.”
(Āli ‘Imrān: 2)
Allah. Tiada Tuhan selain Dia. Yang hidup kekal, Yang menegakkan segala sesuatu.
Kalimat ini menamparku sekaligus memelukku. Jika Dia hidup kekal, mengapa aku bersandar pada yang fana? Jika Dia yang menegakkan segalanya, mengapa aku sibuk menopang diriku dengan tongkat rapuh bernama dunia?
KEGELISAHAN YANG MEMBAKAR
(Latar: Hujan berhenti. Malam lengang. Angin menyelinap dari celah jendela, membawa aroma basah. Di luar, langit kelam tanpa bintang.)
Aku menghela napas panjang. Sudah berapa lama aku membaca ayat ini tanpa benar-benar membiarkannya merobek hijab kesadaranku? Hari-hariku penuh ambisi, langkahku penuh kebisingan. Aku kira aku berdiri kokoh, tapi nyatanya aku rapuh.
“Fa’lam annahu lā ilāha illā Allāh.”
(Muhammad: 19)
Perintah itu bukan sekadar untuk mengucap, tapi untuk mengetahui. Menyelam sampai ke dasar makna. Namun bagaimana aku bisa tahu jika pikiranku berlumur debu dunia? Aku sibuk menakar untung, mengejar bayang-bayang, dan mengira semua itu akan menegakkan hidupku.
“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan, Allah akan cerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali yang telah ditetapkan…”
(HR. Tirmidzi)
Itulah aku. Hidupku seperti pecahan kaca. Mataku selalu melihat kurang, meski tanganku menggenggam banyak hal. Dunia yang kukejar tak pernah benar-benar datang kecuali remah takdir yang tak bisa kutolak.
Aku menunduk. Air mata mulai menggenang. Untuk apa semua ini? Untuk siapa aku berlari? Apa arti semua letih jika akhirnya aku kembali sendiri, memikul dosa yang kian berat?
BISIKAN YANG TAK NAMPAK, TAPI TERASA
(Latar: Udara kamar berubah hangat. Ada hening yang bukan sekadar sunyi. Seakan ruang ini dipenuhi sesuatu yang tak terlihat tapi terasa nyata.)
“Pulang.”
Hanya satu kata. Tapi kata itu mengguncang segala resah. Pulang? Ke mana? Aku bahkan lupa jalan pulang. Aku tersesat terlalu jauh, menelusuri lorong-lorong gelap penuh keangkuhan dan nafsu.
Namun bisikan itu kembali: “Satu langkah ke arah-Ku, Aku mendekat seribu langkah padamu.”
“Barangsiapa mendekat sejengkal kepada-Ku, Aku mendekat sehasta kepadanya…”
(HR. Bukhari Muslim)
Aku ingin berkata: “Tapi aku terlalu banyak dosa.” Namun suara itu seperti memotong bisikanku: “Rahmat-Ku lebih luas dari dosamu.”
“Qul yā ‘ibādiya alladzīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnatū min raḥmatillāh. Innallāha yaghfiru dzunūba jamī‘ā.”
(az-Zumar: 53)
Air mataku pecah. Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku percaya: aku masih bisa pulang.
PERGOLAKAN TAKUT & CINTA
(Latar: Malam kian larut. Jam menunjukkan pukul dua. Sunyi memekakkan telinga. Sajdah memanggil.)
Aku berdiri. Gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena takut. Takut akan semua yang kulakukan. Semua maksiat yang kini menyerbu ingatan. Setiap langkah salah seperti duri yang menusuk dari dalam.
Aku rukuk. Aku sujud. Di tanah ini kubiarkan dahiku melekat, seakan berharap tanah bisa menelan segala sombongku. Lalu aku berbisik, pelan, tapi menyalakan seluruh jiwaku:
“Lā ilāha illā Anta, Subḥānaka, innī kuntu minazh-zhālimīn.”
Doa Yunus ini seperti hujan di padang gersang, menghidupkan hatiku yang kering. Aku terus ulang, sampai tubuhku bergetar. Sampai rasa takutku mencair jadi cinta.
“Takutlah kepada Allah agar kau tak terpisah dari-Nya, dan cintailah Dia agar kau tak berpaling dari-Nya.”
(Perkataan seorang wali)
Dan aku ingin keduanya. Takut yang memelihara, cinta yang mengikat.
KESADARAN TAUHID & DOA KLIMAKS
(Latar: Azan fajar hampir terdengar. Cahaya samar menembus tirai. Udara segar mengusap wajah yang basah air mata.)
Aku duduk. Tangan terangkat. Ini bukan sekadar doa. Ini seruan dari kedalaman luka, jerit dari ruang jiwa yang paling sunyi.
“Allāhu lā ilāha illā Huwa, al-Ḥayyul Qayyūm.”
Kata-kata itu kini bukan sekadar lafaz. Ia hidup. Ia berdenyut di nadi. Allah. Tiada Tuhan selain Dia. Yang hidup, Yang menegakkan segalanya.
Jika Dia hidup, mengapa aku mencari kehidupan di selain-Nya? Jika Dia menegakkan, mengapa aku menumpukan diri pada yang goyah? Segala beban kuturunkan. Segala gengsi kubuang. Kini hanya satu yang kuminta: Dia.
“Ketika kau kehilangan segalanya, di situlah kau temukan bahwa Allah adalah segalanya.”
(Syair yang dinisbatkan kepada Rumi)
Dan benar. Aku kini merasa ringan. Karena akhirnya aku memilih Dia.
EPILOG: FAJAR & JANJI KEMBALI
(Latar: Fajar merekah. Cahaya merah muda melukis langit. Suara azan menggema. Angin pagi membawa harapan baru.)
Aku menatap langit. Untuk pertama kali setelah lama, aku tersenyum dalam sujud. Aku berjanji. Aku akan kembali, bukan hanya malam ini, tapi setiap detik hidupku. Aku ingin mati dengan ayat ini di bibirku: “Allāhu lā ilāha illā Huwa, al-Ḥayyul Qayyūm.”
Karena kini aku tahu: Dialah awal dan akhir. Dialah yang selama ini kucari, bahkan ketika aku tak sadar.
Penutup: Hikmah
“Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya mendahului murka-Nya.”
(Hadis Qudsi)
“Barangsiapa mengenal Allah, ia akan mencintai-Nya; dan barangsiapa mencintai-Nya, ia tak akan memilih selain Dia.”
(Ibn al-Qayyim)
0 Response to "Ketika Huruf Bicara — Malam Sunyi, Jiwa yang Berdebu"
Post a Comment