Qashīdat ar-Raḥmah al-Muḥammadiyyah

Qashīdat ar-Raḥmah al-Muḥammadiyyah

Syair Rahmat Muhammad, penutup surah at-Tawbah

Qashīdat ar-Raḥmah al-Muḥammadiyyah -Terbis

Telah datang engkau, wahai utusan dari diri kami,
namun di dadamu bergetar langit dan bumi,
engkau lahir dari tanah yang kami pijak,
tapi ruhmu menyala dari وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي.

Engkau datang dari dalam, bukan dari luar,
dari rahim fitrah yang telah lama hilang arah,
membawa kami pulang,
kepada Dia yang menanamkan cahaya di dada-Mu.

Berat bagimu derita kami,
karena setiap luka manusia memantul di hatimu,
engkau menampung air mata semesta,
sebagaimana laut menampung sungai-sungai dosa.

Dalam engkau berdenyut rahasia رَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ,
engkau menafas dengan nafas ar-Raḥmān,
dan tiap hembusan cintamu
menghidupkan batu yang dingin dan hati yang beku.

Engkau lembut kepada yang beriman,
ra’ūf dan raḥīm — dua nama Allah memantul dalam tatapanmu,
dalam suaramu bumi mengenal kasih,
dan langit bergetar oleh kelembutan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
itulah seruan yang menjadi darahmu,
engkau tidak sekadar membawa rahmat,
engkau adalah rahmat yang berjalan di antara debu.

Cahayamu menyatu dengan firman,
قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ,
maka al-Qur’an adalah napasmu,
dan napasmu adalah tafsir yang tak pernah berhenti.

Ketika kami berpaling dan dunia memekakkan doa,
engkau hanya berbisik:
فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ,
dan bumi pun belajar arti penyerahan.

Hasbiyallāh—kalimat fana itu,
menjadi jembatanmu menuju laut cahaya,
di mana اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
tidak lagi sekadar firman, tapi keadaan.

Di hatimu bersemayam رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ,
karena arsy itu bukan di langit jauh,
melainkan di dada insan kāmil,
tempat Ar-Raḥmān menulis rahasia cinta.

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
dan engkau adalah arsy itu, wahai kekasih,
tempat nama-nama-Nya berhimpun,
tempat rahmat-Nya berputar tanpa batas.

Engkau shalawatkan kami, wahai yang dishalawatkan,
karena هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ
adalah bayangan kasih yang turun dari langit,
membasuh kami dari kegelapan menuju nur.

Engkau ajarkan kami ihsan,
sebab إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُّحْسِنُونَ,
dan engkau adalah cermin ihsan itu sendiri,
yang berbuat sebagaimana Allah mencintai.

Engkau tanamkan cinta di hati kami,
seperti janji سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا,
dan cinta itu tumbuh seperti taman malam,
berbunga dengan zikir, harum dengan air mata.

Maka surah ini berakhir bukan dengan pedang,
tetapi dengan pelukan yang abadi,
di mana rahmat menutup risalah,
dan Muhammad menutup dunia dengan senyum.

Jika engkau berpaling, ia tetap menunggu,
jika engkau berdosa, ia tetap mencintai,
karena di hatinya, rahmat Allah tak bertepi—
dan dalam cintanya, seluruh alam menemukan diri.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ،
الرَّءُوفِ الرَّحِيمِ، نُورِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ،
الَّذِي بِهِ خُتِمَتْ رَحْمَتُكَ،
وَبِاسْمِهِ انْفَتَحَتْ أَبْوَابُكَ

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Qashīdat ar-Raḥmah al-Muḥammadiyyah"

Post a Comment