Kisah Mbah Kyai Atha dan Sepuluh Putranya

Kisah Mbah Kyai Atha dan Sepuluh Putranya

(Tentang Ridha yang Melebur, dan Tawa di Tengah Takdir)

Kisah Mbah Kyai Atha dan Sepuluh Putranya - Terbis

Di padang luas yang sepi, di antara debu dan senja yang redup, Mbah Kyai Atha berjalan perlahan bersama sepuluh orang putranya. Semua tampan, tegap, dan berwajah bercahaya—buah dari doa panjang di malam-malam tahajjud yang sunyi. Langit sore tampak berwarna tembaga, dan dari ufuk barat berhembus angin yang membawa tanda.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)

Tiba-tiba, dari balik bebatuan, muncullah segerombolan perampok. Mereka mengepung, mengacungkan pedang, mata mereka merah menyala.

“Berhenti, orang tua! Serahkan semua yang kau bawa!”

Putra-putra Mbah Kyai Atha berdiri melindungi ayahnya. Namun mereka hanyalah manusia—dan ajal adalah titah yang tak bisa ditawar. Satu demi satu, perampok itu menghunuskan pedangnya, menumbangkan para putra sang kyai. Darah mengalir di tanah, menguarkan bau besi dan takdir.

Tapi aneh—di tengah jerit dan gemuruh itu, Mbah Kyai Atha tertawa. Bukan tawa gila, tapi tawa fana—tawa seorang arif yang telah melihat tangan Ilahi bekerja di balik setiap peristiwa.

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang beriman bertawakal.” (QS. at-Taubah: 51)

Sembilan putranya telah terbunuh. Yang tersisa hanya si bungsu—muda, pucat, tubuhnya gemetar, namun matanya menatap ayahnya dengan luka yang dalam.

“Wahai Ayah,” katanya dengan nada getir, “Apakah Ayah sudah tak punya hati? Sembilan saudara kami telah dibunuh satu per satu, dan Ayah hanya diam—bahkan tertawa?”

Mbah Kyai Atha mendekat, menatap wajah putranya yang penuh debu dan darah, lalu berkata dengan suara lirih: “Wahai anakku… Dialah yang melakukan ini semua. Apa yang bisa kita katakan kepada-Nya? Bukankah Dia yang Maha Tahu dan Maha Melihat? Jika Dia menghendaki, tentu bisa saja Dia menyelamatkan kalian seluruhnya. Tapi bila Ia menulis takdir lain, maka di dalamnya pasti ada rahasia kasih yang belum kita pahami.”

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍۢ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ

“Tiada suatu musibah pun menimpa kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. at-Taghābun: 11)

Kalimat itu seperti panah yang menembus hati para perampok. Pemimpin mereka yang hendak memenggal anak terakhir itu mendadak berhenti. Pedangnya bergetar di udara, lalu jatuh ke tanah.

Air matanya menetes. Ia menatap wajah Mbah Kyai Atha—tua, tenang, dan bercahaya.

“Wahai orang tua,” katanya lirih, “seandainya sejak tadi engkau ucapkan kata-kata itu, niscaya tak seorang pun dari anak-anakmu yang akan terbunuh.”

Mbah Kyai Atha tersenyum—senyum yang memaafkan, senyum yang lahir dari laut jiwa yang sudah pasrah total. Ia menatap ke langit yang kini mulai kelam, lalu berbisik,

رَّضِيتُ بِٱللَّهِ رَبًّۭا وَبِٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا وَبِمُحَمَّدٍۢ نَّبِيًّۭا

“Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai nabiku.”

Kemudian beliau menutup matanya sebentar, tersenyum dalam pasrah, dan berkata pelan: “Bukan engkau yang membunuh, bukan pula aku yang menyelamatkan. Semua tangan hanyalah bayangan. Yang bekerja hanyalah Dia.”

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ

“Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (QS. al-Anfāl: 17)

Angin padang pun terhenti sejenak. Langit seakan menunduk. Dan tawa Mbah Kyai Atha kembali terdengar — tawa fana yang memecah sunyi, tawa yang tumbuh dari akar ridha dan keimanan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Mbah Kyai Atha dan Sepuluh Putranya"

Post a Comment