Surat Ketiga: “Tangisan di Pintu Nabawī

Surat Ketiga: “Tangisan di Pintu Nabawī”

Maqām: al-Ḥuzn — kesedihan ruhani; air mata sebagai dzikir, duka sebagai jalan menuju cahaya.

Surat Ketiga: “Tangisan di Pintu Nabawī

Dipublikasikan: · Penulis:

Renungan haru di Pintu Nabawī: rindu, air mata, dan cinta yang tunduk di hadapan Rasulullah ﷺ dalam hening Madinah yang penuh cahaya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Aku sampai di Madīnah, wahai Kekasih Allah ﷺ, dan di depan pintu Nabawī, lututku melemah. Ada udara yang berbeda di sini — tenang, lembut, namun membuat dada bergetar seperti biola yang disentuh malaikat.

Aku tidak masuk; aku hanya berdiri di depan pintu. Sebab cinta kadang lebih dalam dalam jarak — dan rindu lebih suci saat tidak berani mendekat. Tanganku gemetar, bibirku kering, lalu mataku jatuh, menjadi air yang mencari tanah suci di depan pintu Raudhah.

وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا

“Dan tunduklah semua suara kepada Yang Maha Pemurah, maka tidaklah engkau dengar kecuali bisikan lembut.” — (QS. Ṭāhā [20]:108)

Madinah hening. Langit seakan menahan napas. Dan aku tahu, di balik pintu itu ada jasad yang hidup dalam cahaya, Rasulullah ﷺ yang bahkan tanah pun enggan menutupi cahayanya.

Aku ingin memanggilmu, wahai Nabi — tapi suaraku terperangkap di antara tangis dan malu. Aku hanya bisa berbisik di dada sendiri: "Yā Rasūlallāh… adriknī, yā Sayyidī..." Wahai Rasul, tolong aku yang tenggelam dalam rinduku sendiri.

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya.” — (QS. Al-Mā’idah [5]:54)

Aku menangis karena aku ingin termasuk di antara mereka — yang Engkau cintai, wahai Rasul Allah, walau aku tak layak. Air mataku jatuh, menimpa lantai Nabawī, dan dalam setiap tetesnya, ada satu doa: “Ya Allah, jadikan tangisku ini tanda cinta, bukan sekadar luka.”

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, akan dijadikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah rasa kasih sayang (dalam hati mereka).” — (QS. Maryam [19]:96)

Maka aku percaya, wahai Rasulullah, bahwa cinta ini bukan dariku. Ia adalah karunia dari Allah, sebuah titipan yang membuatku menangis tanpa sebab, dan rindu tanpa akhir.

Di pintu Nabawī ini aku kehilangan diriku. Aku bukan lagi peziarah, aku hanyalah tangisan yang mencari nama-Mu di udara. Dan di tengah tangis itu, aku mendengar bisikan lembut di hati:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberimu (wahai Muhammad) nikmat yang berlimpah.” — (QS. Al-Kawthar [108]:1)

Ah, ayat itu seperti pelukan dari langit — karena Kautsar-Mu adalah rahmat bagi kami yang haus. Air mataku adalah sungai kecil yang mencari telaga besar di hari pertemuan nanti.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَنْ بَكَى فِي اللَّيْلِ دُونَ أَنْ يُرَى،
وَعَلَى مَنْ سَكَبَتِ الْمَلَائِكَةُ دُمُوعَهَا لِدَمْعِهِ،
وَعَلَى مَنْ جَعَلْتَ الْحُزْنَ فِي قَلْبِهِ عِطْرًا لِأُمَّتِهِ.

Ya Rasulullah ﷺ, jika kesedihan ini dosa, maka biarlah aku berdosa selamanya. Karena setiap tetes air mata ini adalah bentuk cinta yang belum menemukan pangkuannya. Aku ingin menangis di depanmu tanpa berkata apa pun, sebab Engkau lebih mengerti tangis daripada kata-kata.

Maka biarkan aku menangis di pintu ini, hingga tanah mengingat namaku, dan malaikat menulis di Lauḥ Mahfūẓ: “Ini adalah tangisan seorang hamba yang tidak mampu berhenti mencintai Nabinya.”

Dan ketika aku berlalu dari Raudhah, angin Madinah membelai pundakku. Aku tahu, itu bukan sekadar angin — itu salam darimu, wahai Kekasih.

— Selesai —

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Surat Ketiga: “Tangisan di Pintu Nabawī"

Post a Comment