Surat Untuk Saudara ku II, Diam, Uzlah, Lapar, Tidak Tidur

Diam, Uzlah, Lapar, tidak tidur

Wahai Saudara ku

Bila Kita hendak berjalan melewati jalan ahli ma'rifat dan al ahwal (ma'rifat adalah pengetahuan sejati tentang Allah, al ahwal adalah keadaan ruhani atau ciri orang yang telah mencapai ma'rifah itu, seharusnya Kita atau siapa pun mengikuti hal-hal berikut sebagai bantuan menuju jalan kebahagiaan:

Salah satunya adalah diam: Ada dua macam diam: pertama, diam lisan (lidah) dari berbicara tentang selain-Allah Swt dengan oknum selain AIIah secara sekaligus; kedua, diam hati dari hal-hal yang muncul di hati mengenai yang maujud, diam sama sekali. Barang siapa lisannya diam tetapi hatinya tidak, maka dosanya akan ringan. Barang siapa lisannya diam dan juga hatinya diam, maka yang rahasia akan menjadi jelas baginya, dan Allah akan menjadi jelas pula baginya. Barang siapa hatinya diam tetapi lisannya tidak,  maka dia akan berkata dengan kata hikmah. Barang siapa yang lisan dan hatinya tidak diam, maka itu adalah kekuasaan setan dan ia tunduk kepadanya. Diam dengan lisan·adalah kelas orang awam dan mereka yang melakukan suluk (perjalanan ruhani). Sedang diam dengan hati adalah sifat para muqarrabin (mereka yang didekatkan Allah kepada-Nya), diam milik ahli musyahadah (orang yang mampu·menyaksikan kebesaran Allah). Hal (kondisi ruhani) yang timbul dari diam orang awam adalah selamat dari bahaya fitnah, sedang bagi yang timbul dari diam para muqarrabin adalah timbulnya dialog kalbu yang lentur dan asyik.

Barang siapa menjalankan diam dalam semua keadaan, maka ia tidak akan sempat lagi berbicara kecuali dengan Tuhannya. Sebab diam sama sekali bagi manusia dalam dirinya sendiri adalah mustahil. Bila beralih dari berbicara dengan non-Allah ke berbicara dengan Allah,:maka dia akan menjadi orang yang selamat,  dekat kepada Allah, dan kuat ucapannya. Bila berbicara, ia akan berbicara dengan benar. Pembicaraannya bersumber dari Allah SWT. Allah Swt berfirman mengenai hal Nabi-Nya Sayidina Mohammad Saw, Dia tidak bicara dari hawa nafsu (QS AI-Najm: 3).

Pembicaraan yang benar merupakan hasil diam dari kesalahan. Apa pun alasannya, berbicara dengan selain-AIIah adalah kesalahan; sementara berbicara tentang selain-AIIah, dipandang dari sudut mana pun, adalah kejelekan. Allah Swt berfirman, Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) untuk memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mendamaikan sesama manusia. (QS AI-Nisa: 114). 

Salah satu yang timbul karena diam adalah maqam (kedudukan) wahyu dengan segala macamnya, dan diam menghasilkan makrifat kepada Allah Swt.

Selain diam adalah 'uzlah (menyendiri). Uzlah adalah penyebab diamnya lisan. Barang siapa yang menyendiri, menjauhi manusia, maka tak akan ada yang ia ajak berbicara, sehingga menyebabkan ia diam dengan lisannya.

Uzlah ada dua macam:pertama, uzlah yang dilakukan para pemula, yaitu uzlah jasmani dari bergaul dengan orang lain; dan kedua, uzlah para ahli hakikat, yaitu uzlah dengan hati dari yang maujud. Sehingga hati mereka hanya berisi ilmu tentang Allah semata.

Hati mereka menjadi saksi atas Allah yang terjadi karena kesaksian akan kebesaran Allah. Niat mereka yang melakukan uzlah ada tiga macam: pertama, menjaga diri dari jeleknya orang lain;  kedua, menjaga jeleknya diri sendiri jangan sampai menular kepada orang lain. Jenis kedua ini tingkatannya lebih tinggi daripada yang pertama. Niat pertama mengandung prasangka buruk (su'al-than kepada orang lain, sedangkan niat kedua mengandung prasangka buruk kepada diri Kita sendir. Buruk-sangka kepada diri Kita sendiri tentulebih utama, karena kita tentu lebih memahami diri Kita sendiri;·ketiga, niat memilih bersama Tuhan dari sisi alam arwah.

Manusia yang paling tinggi tingkatannya adalah orang yang menyendiri dari dirinya demi memilih bersama Tuhannya. Barang siapa memilih uzlah dari bercampur orang lain berarti memilih Tuhannya daripada selain-Nya, dan Barang siapa memilih Tuhannya maka tak seorang pun tahu anugerah dan rahasia apa yang diberikan Allah Swt kepadanya.

Puncak dari kondisi uzlah adalah khalwah (hampa). Karena khalwah adalah uzlah di dalam uzlah, maka hasil dari khalwah lebih kuat daripada hasil uzlah pada umumnya. Bagi yang melakukan uzlah sebaiknya' mempunyai keyakinan bersama Allah Swt sehingga tak terbesit di hatinya untuk keluar dari tempat uzlahnya. Uzlah bisa menghasilkan ma'rifat tentang dunia.

Selain diam dan uzlah adalah lapar. Lapar adalah pilar ketiga dari jalan llahi ini. Lapar ada dua macam: pertama, lapar ikhtiyar (lapar karena memilih untuk lapar), yaitu laparnya orang yang sedang belajar; dan kedua, lapar idhthirar(lapar yang terjadi bukan karena kehendak dan di luar kendali), yaitu lapar para muhaqqiq (ahli hakikat). Ahli hakikat tidak melaparkan dirinya tetapi menyedikitkan makannya bila dalam maqam. Bila dalam maqam haibah (takut dan hormat), makannya menjadi banyak. Banyaknya makan bagi ahli hakikat adalah ketika sahihnya dominasi cahaya-cahaya hakikat pada hati mereka dengan keagungan-keagungan Allah SWT yang mereka saksikan. Sedikit makan adalah tanda sahihnya dialog dengan “hal“ gembira karena kebesaran Allah SWT yang mereka saksikan.

Banyaknya makan bagi kita merupakan pertanda bahwa kita jauh dari Allah Swt, dan terusir dari pintu-Nya. Sedikitnya makan bagi kita terciumnya bau harum anugerah llahi pada hati kita, yang menyibukkan kita sehingga kita tak mengurusi diri kita.

Lapar, bagaimanapun dan dari segi mana pun, merupakan sebab yang membawa kita untuk bisa memperoleh “hal” (kondisi hati) yang paling agung dan bagi ahli hakikat untuk bisa memperoleh asrar (rahasia-rahasia).

Lapar  memiliki “hal” dan maqam. “Hal” -nya (ciri atau keadaan ruhani orang bersangkutan) berupa khusyuk, merasa lemah, hina, butuh, tanpa kelebihan, tenangnya anggota badan, dan tidak munculnya gagasan-gagasan hina. lnilah “hal”  yang dihasilkan oleh lapar bagi kita. Hal yang dihasilkan oleh Iapar para ahli hakikat adalah terjadinya sifat halus, bersih, senang, hilangnya keterkaitan dengan wujud atau makhluk, dan bersih dari sifat-sifat manusia karena sifat kemuliaan llahiah dan kekuasaan rabbani. Maqamnya adalah maqam shamadani(a/-shamad, Tuhan Yang
Maha Dibutuhkan), yaitu maqam tinggi yang mempunyai rahasia-rahasia, kejelasan, tajalli, dan hal. Itulah faedah lapar bagi orang yang mempunyai kemauan kuat, bukan laparnya orang awam. Sebab laparnya orang awam adalah untuk perbaikan kondisi dan kenikmatan badan dengan kesehatan, bukan untuk hal lain. lapar menghasilkan makrifat yang mendalam tentang setan. Semoga Allah melindungi kita dari setan.

Pilar keempat adalah terjaga (tidak tidur).  Terjaga adalah akibat dari Iapar. Bila perut tak terisi makanan, tidur pun tak akan datang. Terjaga ada dua macam: terjaga mata dan terjaga hati. Terjaga hati artinya siaganya hati dari kelalaian sebagai upaya untuk menyaksikan kebesaran Allah Swt. Terjaga mata adalah karena konsistennya kemauan di dalam hati supaya bisa musamarah (berdialog malam dengan Tuhan). Sebab, bila mata tidur maka hati tak lagi bisa bekerja. Bila hati tidak tidur sementara matanya tertidur, maka ujungnya adalah musyahadah (menyaksikan kebesaran) Allah,  hasil dari terjaganya hati seperti tersebut di atas, tidak yang lain. (tentang hal ini Nabi Saw bersabda, Mataku tidur tapi hatiku terjaga.)

Jadi, faedah terjaga adalah'berlangsungnya kerja hati, dan naiknya ke posisi-posisi tinggi yang tersimpan di sisi Allah Swt. Hal yang dihasilkan dari terjaga adalah memanfaatkan waktu secara khusus bagi kita dan ahli hakikat. Hanya saja ahli hakikat dalam keadaan bertambahnya upaya berakhlak dengan Tuhan sementara kita belum sampai ke sana. Adapun maqam yang dihasilkan dari terjaga adalah maqam qayyumuyah (al qayyum, sifat Allah Yang Maha Menciptakan dan sekaligus terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tanpa kantuk atau tidur sedikit pun). Terjaga menghasilkan makrlfat tentang nafsu. Dengan demikian, genaplah pilar-pilar makrifat. Sebab makrifat itu berputar untuk menghasilkan 4 makrifat ini: makrifat tentang Allah, makrifat tentang'nafsu, makrifat tentang setan, dan makrifat tentang dunia.


Bila orang menyingkir dari makhluk dan dari nafsunya, berdiam diri dari mengingat makhluk dan  dirinya karena mengingat Tuhannya semata, berpaling dari makanan jasmani, terjaga saat  orang- orang lain tidur, dan empat hal tersebut terkumpul padanya, maka sifatnya sebagai manusia diganti dengan sifat malaikat, sifat kehambaannya diganti dengan sifat kegustian, akalnya menjadi indra, gaibnya menjadi nyata, dan batinnya menjadi lahir. Bila ia berpindah dari suatu daerah, maka ia  meninggalkan hakikat ruhani sebagai penggantinya di situ, hakikat yang menjadi tempat berkumpulnya arwah para penduduk daerah yang ditinggalkan wali tersebut.
Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada kita untuk menggunakan pilar-pilar tersebut. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita, junjungan makhluk, Sayidna maulan mustofa Nabi Muhammad Rosulullah Saw.

 

Wallahu alam

Hutan Larangan, ashar 11/11/2020


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Surat Untuk Saudara ku II, Diam, Uzlah, Lapar, Tidak Tidur"

Post a Comment