Ilmu dan Iman
Wahai Saudara ku
Semoga Allah menguatkan kita dengan spirit
dari-Nya sehingga kita bisa berbicara mengenai Allah SWT, adalah nasihat agar kita
mengenal (makrifat} “AIIah Swt” dari segi apa yang Dia beritahukan kepada kita
mengenai Zat-Nya. Berdasarkan pemberitahuan-Nya itulah kita berpegang untuk
menafsirkan bukti·empiris, yakni memberikan hal-hal yang semestinya kepada Allah, Zat
Yang Maha bersih, Maha suci dari hal-hal yang tak layak bagi-Nya. Sehingga Kita
bisa memadukan antara ilmu yang memberikan iman kepada Kita dengan ilmu yang
memerlukan dalil rasional. Jangan
berupaya menyatukan keduanya, namun gunakanlah masing-masing metode secara
terpisah. Jadikanlah iman ada di hati Kita karena iman telah
memberikan kepada Kita makrifat tentang Allah, sebagaimana mata memberikan
indra agar kita mengenal sesuatu seperti yang dikehendaki hakikatnya.
Waspadalah jangan sampai pandangan rasional
kita memalingkan dari apa yang telah diberikan oleh iman kepada kita, karena kita
bisa terhalang dari ‘ain al
yaqin”(keimanan berdasarkan hati). Sebab, Allah itu jauh lebih luas dari sekadar
yang bisa didefinisikan oleh akal tentang iman atau iman tentang akal.
Ketahuilah
saudaraku, akal macam apa pun, akal malaikat atau manusia, bahkan akal awal (al- 'aql al-awwal),
yang
merupakan wujud pertama pada zaman penyusunan dan penulisan, telah mengerti
kekurangan dan kebodohannya tentang penciptanya. Akal juga tak mengerti tentang
Zat Yang Maha Suci ini kecuali sekadar yang diperlukan oleh alam. Sebab, sifat nafsiyyah (sifat diri) Zat Yang
Suci ini tidak mungkin tidak kecuali satu yakni Zat itu sendiri. Karena tidak
mungkin untuk menetapkan definisi pasti tentang Sang Zat Suci ini, maka akaI
pun tidak mungkin mengetahuinya. Dia adalah Zat Yang Mustahil Bersusun, jadi jauh
sekali dari unsur-unsur yang membentuk-Nya.
Ketahuilah saudaraku, tidaklah tertulis
dari ilmu ilahi mengenai alam kecuali secara apa adanya sampai hari
kiamat, baik alam atas, seperti difirmankan-Nya, Dia mewahyukan pada
tiap-tiap langit urusannya (QS:Fushshilat:12), maupun, alam bawah,
sebagaimana firman-Nya, Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni)nya (QS
:Fushilat:10). Bila hati telah bersih dan cermin telah mengkilap, janganlah Kita
hadapkan cermin itu ke alam untuk mendapatkan apa yang ada di alam itu seluruhnya,
karena tak ada faedahnya. Sebaliknya, hadapkanlah cermin hati itu ke hadirat Maha Zat, dari segi
pengetahuan dirinya untuk menghadap dengan sikap sangat butuh dan tak punya apa
pun, agar Allah memberi kita makrifat tentang-Nya, makrifat yang tidak mungkin berhasil
kecuali dengan cara ini.
Ketahuilah bahwa penyebab untuk memperoleh
apa yang telah disebutkan di atas adalah kosongnya kehendak dan hati dari
sesuatu ilmu dan dari pikiran yang diperlukan untuk mengumpulkan ilmu; serta
menghapus yang telah tertulis dan melupakan yang telah diketahui, dan duduk dengan
rasa hadir di sisi Allah atas kejernihan batin, lepas dari keterikatan dengan
selain Zat Allah Yang Maha- Agung secara mutlak. Jangan duduk di sisi-Nya demi
sesuatu yang
tertentu.
Apabila kita melakukan dan kita menentukim, lalu Dia membuka sesuatu
bagi kita, maka kita hanya akan memperoleh yang kita tentukan itu. Hendaknya
terang benderang kita dalam duduk kita pada batin kita adalah Allah. Hal ini dilakukan
bukan dengan menghayal, tetapi dengan memikir dan merenungkan huruf-huruf,
bukan menghayalnya. Janganlah menantikan al-fath al-ilahi (terbukanya pintu
llahi) karena duduk dan dengan keadaan semacam ini, tapi berzikirlah kepada-Nya
dengan zikir seperti tersebut di atas demi sesuatu yang dinisicayakan oleh
keagungan-Nya. Artinya, kita memilih Dia dari sudut pandang-Nya, bukan dari
sudut pandang ilmu kita tentang Dia dan bukan dari akidah kita, tetapi dengan totalitas
ketidaktahuan kita. Kemudian, bila Dia membukakan untuk kita salah satu pintu
ilmu-billah (ilmu tentang Allah), namun masih berupa rasa yang tidak
mengantarkan kita kepada suatu rasa ruh yang suci (ruh qudsiyy), maka jangan kita
mengulangnya dan jangan berhenti di situ, dan sibukkan diri dengan ibadah yang
sedang kita lakukan.
Apabila rasa tersebut menjadi bermacam-macam
dengan rasa al-arwah
al-mujarradah (ruh
ruh yang murni), hendaknya hal (kondisi) Kita dalam
menghadapinya adalah sama dengan hal (kondisi) kita pada ruh
pertama tadi, sampai kita memperoleh kesan dalam batin kita tentang sesuatu yang
keluar dari berbagai rasa malaikat di langit (adzwaq al-mala 'al-a'la),
dan
dalam hal demikian kita tidak mencium bau perantara ruh yang lebih suci.
Perhatikanlah lagi rasa yang asing itu, bila menunjukkan suatu asma llahi dari
asma-asma yang sudah ada pada kita, apakah itu asma yang punya arti
memahasucikan Tuhan atau yang lain, maka hendaknya hal (kondisi) kita dalam
rasa tersebut adalah sama persis hal kita dengan rasa-rasa yang sebelumnya.
Surat Untuk Saudaraku
Hutan Larangan, Subuh 08/11/2020
0 Response to "Surat Untuk Saudara ku : Ilmu dan Iman"
Post a Comment