Mahiwaliyah “Jalan Sunyi Tanpa Peta”

 Mahiwaliyah

“Jalan Sunyi Tanpa Peta”


Prolog – Panggilan dari Curug Panganten

Senja jatuh perlahan di dusun Sukamulya. Kabut tipis melayang dari sela-sela pohon pinus, seperti doa-doa yang belum selesai dikirimkan. Di balik riuh gemuruh Curug Panganten, suara dunia meredup. Air terjun itu bukan hanya jatuh, tapi seperti bersujud dalam dzikirnya sendiri. Suara alam menembus tulang, dan pada saat itulah, ia tiba: seorang pengelana tanpa nama, hanya membawa sunyi dalam dadanya.

Langkahnya tak terdengar, namun tanah tahu bahwa seseorang telah datang bukan untuk bertamasya, tetapi untuk mencari. Mencari sesuatu yang tidak disebut dalam kitab mana pun. Ia tidak membawa kitab wirid, tidak membawa ijazah tarekat, tidak pula mengenakan jubah atau sorban. Hanya sehelai kain kumal dan ransel lapuk. Tapi dadanya dipenuhi pertanyaan yang tak pernah dijawab di kota-kota: Apa makna dekat itu, jika tidak tahu arah? Apa arti pulang jika tak tahu dari mana berangkat?

Ia duduk di tepi curug. Air memercik wajahnya. Namun bukan air itu yang menggigilkan tubuhnya, melainkan getaran halus yang datang entah dari mana. Seperti ada suara yang berbicara, bukan lewat telinga, tapi dada. Sebuah panggilan, bukan dari seseorang, tapi dari sesuatu yang lebih dalam. Panggilan ini bukan untuk menjadi wali, bukan untuk menjadi ulama, apalagi guru. Ini panggilan untuk hilang. Untuk menanggalkan segala: nama, kehendak, cita-cita, bahkan jalan itu sendiri.

Tiba-tiba, dari sela bebatuan, ia menangkap satu ayat yang bergema lirih dalam pikirannya, seperti bisikan dari langit:

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku."(QS Al-Baqarah: 186)

Ayat itu menghunjam ke dasar jiwanya. Dalam tafsir Ibn 'Ajibah, "قَرِيبٌ" tidak hanya berarti dekat secara jarak, tapi dekat secara dzāt (hakikat)—Dia hadir di lubuk terdalam, melampaui persepsi indera. Qusyairi menambahkan: dekatnya Allah bukan sekadar tanggapan terhadap doa, tetapi penyertaan dalam keberadaan.

Ia tersentak. Tidak oleh suara, tetapi oleh makna. Bahwa kedekatan tidak butuh perantara. Tidak ada syarat. Tidak ada birokrasi spiritual. Ia hanya butuh dada yang terbuka dan langkah yang berserah. Di situlah titik mula tarekat tanpa tarekat itu muncul: Mahiwaliyah.

Tarekat ini tidak punya mursyid, tidak punya silsilah, tidak punya zikir khusus. Ia hanya punya satu hal: kesendirian yang penuh cinta. Jalan ini tak diwariskan, tak diajarkan, tak bisa diminta. Ia datang saat semua jalan buntu, dan satu-satunya yang tersisa adalah Allah. Sebuah maqam yang mirip dengan apa yang disingkap oleh para salik, namun kali ini tanpa petunjuk kecuali luka dan rindu.

Sebagaimana dalam Hadis Qudsi yang menghangatkan malam-malam para pencari:

"مَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي، أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً"

"Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta; dan barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Barangsiapa datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya berlari."(HR. Bukhari dan Muslim)

Ia merenung dalam lirih zikir, bahwa jalan ini bukan menuju kemasyhuran, tetapi menuju pelupaan atas diri. Ia bukan hendak mengenal Tuhan untuk menjadi mulia, tapi agar bisa hilang dalam Dia. Maka doa para awliya' menjadi embusan dalam jiwanya:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ السَّاجِدِينَ لِوَجْهِكَ، وَمِنَ الْمُتَوَاضِعِينَ لِحَقِّكَ، وَمِنَ الْمُحِبِّينَ لِجَمَالِكَ، وَمِنَ الْمُسْتَهْدِينَ بِنُورِكَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ سِوَاكَ وَلَا يَسْكُنُونَ إِلَّا إِلَيْكَ.

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersujud kepada Wajah-Mu, yang merendah kepada Kebenaran-Mu, yang mencintai Keindahan-Mu, yang mencari petunjuk melalui Cahaya-Mu, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang tidak menginginkan selain Engkau dan tidak merasa tenteram kecuali kepada-Mu.

Ia teringat akan Dhu al-Nun al-Misri, yang berkata: "Ma’rifah adalah bila kau tidak melihat selain Allah dalam apa pun." Sang pengelana kini mulai merasakan kehadiran itu—bukan melalui penglihatan, tapi keheningan batin yang menggigil.

Di antara bebatuan curug, ia mendengar zikir air. Tidak keluar dari mulut, tapi dari batu, dari tetes gerimis, dari hembus angin. Ia teringat pada ayat:

﴿وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَـٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ﴾

"Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, hanya saja kalian tidak memahami tasbih mereka."(QS Al-Isra: 44)

Maka setiap gemuruh curug adalah tahmid, setiap gugur daun adalah tasbih, dan setiap kabut adalah doa yang menggantung di langit tak bernama. Setiap keheningan menjadi cermin dari ketidakterhinggaan. Maka ia berkata dalam hatinya:

اللَّهُمَّ اكْشِفْ عَنِّي حُجُبَ الْغَفْلَةِ، وَافْتَحْ لِي بَابَ الْمُشَاهَدَةِ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُنَاجِينَ فِي لَيْلِ الْوِصَالِ، وَمِنَ الْعَارِفِينَ الَّذِينَ أَحْرَقَتْهُمُ الْمَحَبَّةُ.

Ya Allah, singkapkanlah dariku tabir kelalaian, bukakanlah bagiku pintu penyaksian, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bermunajat dalam malam perjumpaan, dan termasuk para arifin yang telah dibakar oleh cinta-Mu.

Ia menatap batu basah di tepi curug, dan melihat satu kalimat yang ia tahu bukan ditulis dengan tinta:

"Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta."

Ia tidak tahu apakah itu suara hatinya, atau gema dari langit. Tapi ia percaya, jalan ini bukan untuk ditanyakan, tetapi untuk dijalani. Sebagaimana Rabi’ah al-Adawiyah pernah berkata:

"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, haramkan surga itu bagiku. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, jangan Kau palingkan aku dari-Mu."

Tangisnya tidak turun ke pipi, tetapi meluruh di dalam batin. Ia tahu: ini bukan perjalanan biasa. Ia telah dipanggil. Ia bukan datang, tapi dijemput oleh sunyi.

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُ الْآخِرَةِ، وَلَا نَجَاةَ إِلَّا فِي رِضَاكَ، وَلَا أَمَانَ إِلَّا فِي ظِلِّكَ، فَخُذْ بِيَدِي فِي طَرِيقِ الْمُحِبِّينَ، وَاحْفَظْنِي مَعَ الْفُقَرَاءِ إِلَيْكَ، وَاجْمَعْنِي مَعَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَالصَّادِقِينَ.

Ya Allah, tiada kebaikan selain kebaikan akhirat, tiada keselamatan kecuali dalam ridha-Mu, tiada rasa aman kecuali di bawah naungan-Mu. Maka tuntunlah tanganku di jalan para pecinta, lindungilah aku bersama para fakir yang menuju-Mu, dan kumpulkanlah aku bersama junjungan kami Muhammad ﷺ, keluarganya, dan orang-orang yang jujur.

Langit semakin merah. Kabut semakin tebal. Tapi dalam dada pengelana itu, terang mulai menyala. Ia mengangkat tangan, bukan untuk meminta, tapi untuk menyerahkan segalanya. Lalu dari bibirnya meluncur syair yang tidak pernah ia hafal, tapi lahir begitu saja:

Wahai Yang Dekat, yang lebih dekat dari denyut nadi, Buka bagiku jalan yang tidak bertanda ini, Di mana tiada aku, tiada nama, tiada kehendak—Hanya Engkau, dan langkah yang menyatu dengan-Mu.Wahai Wajah Yang Tidak Tersentuh Kata,Jika Kau ijinkan aku hilang, maka jangan sisakan apa pun dariku kecuali Engkau.

Ia bersujud di atas tanah lembab. Wajahnya tak menyentuh sajadah, melainkan bumi. Satu-satunya sajadah yang tak diciptakan manusia. Di sanalah ia larut dalam sujud sunyi yang tak dibatasi waktu.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِي بِهَا قَلْبِي، وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلِي، وَتَرُدُّ بِهَا نَفْسِي إِلَيْكَ رَاضِيًا مَرْضِيًّا، وَتُذِيبُ بِهَا أَنَانِيَّتِي فِي مَحَبَّتِكَ.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rahmat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau beri petunjuk kepada hatiku, yang dengannya Engkau satukan pecah-belah diriku, yang dengannya Engkau kembalikan jiwaku kepada-Mu dalam keadaan ridha dan diridhai, dan yang dengannya Engkau leburkan keakuanku dalam cinta kepada-Mu.

Tapi tak lama kemudian, angin datang dari arah selatan. Membawa bau tanah basah dan dedaunan gugur. Dan dalam angin itu, ia merasakan bisikan yang lebih nyata dari apa pun yang pernah didengarnya.

﴿قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ﴾

"Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenar-benarnya)."(QS Al-Baqarah: 120)

Ia menggenggam tanah yang lembab dan membiarkannya mengalir di sela-sela jari. Begitu pula ia ingin melepaskan identitasnya: sehelai demi sehelai, seperti tanah yang kembali ke asalnya. Ia tak ingin lagi disebut aku.

اللَّهُمَّ لَا تُبْقِ لِي هُوِيَّةً تُنَافِسُ وُجُودَكَ، وَلَا نَفْسًا تَغَارُ مِنْ حُضُورِكَ، وَاجْعَلْنِي هُوَاءً فِي مَسَافَةِ نُورِكَ.

Ya Allah, jangan sisakan untukku identitas yang bersaing dengan Keberadaan-Mu, jangan tinggalkan jiwaku yang cemburu pada Kehadiran-Mu, dan jadikanlah aku seperti udara dalam keluasan cahaya-Mu.

Beberapa helai daun gugur perlahan dan menempel di bahunya. Ia tersenyum. Ia tahu: daun pun tahu waktu untuk jatuh. Maka biarlah ia jatuh dari dirinya sendiri.

Lalu, terngiang pula ayat yang membimbing hatinya semakin dalam:

﴿وَٱهْجُرْهُمْ هَجْرًۭا جَمِيلًا﴾

"Dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik."(QS Al-Muzzammil: 10)

Ia tinggalkan dunia bukan karena benci, tapi karena rindunya kepada yang abadi. Ia tak ingin melawan dunia, tapi ingin larut kepada Yang Menciptakan dunia.

Dan di sanalah lahir nama yang tidak pernah ia ucapkan, tapi mulai membentuk makna dalam dada: Mahiwaliyah. Jalan para pecinta yang ingin terhapus dalam kekasihnya. Jalan yang tidak memerlukan peta, tidak memerlukan pengakuan, hanya membutuhkan hati yang hancur karena rindu.

اللَّهُمَّ مَهِّنِي بِذِلِّكَ، وَأَعِزَّنِي بِفَقْرِي إِلَيْكَ، وَأَغْنِنِي عَنْ كُلِّ مَا سِوَاكَ، وَاجْعَلْنِي فِي دَرَجَاتِ الْفَنَاءِ حَتَّى أَبْقَى بِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ.

Ya Allah, hinakanlah aku dengan kehinaan kepada-Mu, muliakan aku dengan kefakiranku kepada-Mu, kayakan aku dari segala selain-Mu, dan jadikanlah aku dalam derajat kefanaan hingga aku abadi dalam Wajah-Mu yang Mulia.

Di balik bayang senja, sang pengelana pun berdiri. Ia tidak berjalan dengan kaki, tapi dengan ruh. Dan dalam dadanya kini hanya satu harapan:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْمَعْرُوفِينَ، وَلَا فِي الصُّفُوفِ، وَلَا مَعَ الْمَذْكُورِينَ فِي الْكُتُبِ، وَلَٰكِنِ ٱجْعَلْنِي فِي سِرِّكَ، فِي خُلْوَتِكَ، فِي خُصُوصِيَّةِ ٱلْقُرْبِ مِنْكَ.

Ya Allah, jangan tempatkan aku bersama orang-orang yang dikenal, jangan di barisan yang disebut, jangan di dalam buku-buku, tetapi jadikan aku dalam rahasia-Mu, dalam khalwat-Mu, dalam kedekatan khusus dengan-Mu.

Langkahnya pun lenyap ditelan kabut. Dan Curug Panganten kembali sunyi. Tapi kali ini, sunyi itu bukan kehampaan, melainkan ruang di mana seorang pengelana baru saja dilahirkan: bukan sebagai manusia, tapi sebagai pecinta.

اللَّهُمَّ ٱجْعَلْنِي مِنَ ٱلْمَحْوِيِّينَ فِي حُبِّكَ، ٱلْغَائِبِينَ عَنِ ٱلنَّفْسِ، ٱلْقَائِمِينَ بِالذِّكْرِ، ٱلْمَكْشُوفِ لَهُمُ ٱلسِّرُّ، ٱلْمَسْتُورِينَ بِنُورِكَ.

Ya Allah, jadikanlah aku dari kalangan mereka yang terhapus dalam cinta-Mu, yang lenyap dari ego diri, yang berdiri dalam zikir, yang dibukakan rahasia, dan yang diselimuti oleh Cahaya-Mu.

Dan sejak malam itu, siapa pun yang datang ke Curug Panganten… jika ia mendengarkan dengan dada, bukan dengan telinga… akan tahu: tempat ini pernah menjadi awal dari jalan sunyi yang tanpa peta.

Langit mengalir seperti darah senja, meneteskan warna-warna luka ke atas dedaunan yang setengah basah. Kabut menari perlahan dari lembah-lembah rahasia, menyelimuti bebatuan yang menjadi saksi diam ribuan tahun kesunyian. Curug Panganten tak hanya memercikkan air dari ketinggian, ia juga memercikkan rahasia. Sebuah suara memanggil, bukan dari langit, bukan dari bumi, tapi dari ruang di antara keduanya—ruang yang hanya bisa dijangkau oleh dada yang hancur oleh rindu.

Seseorang datang. Bukan karena undangan, bukan karena hasrat. Ia datang karena dipanggil. Tak bernama. Tak bersuara. Hanya tubuh, jiwa, dan langkah yang mengalir di jalan setapak yang seperti tidak pernah dibuat.

Ia adalah musafir. Tapi bukan pelancong biasa. Ia tidak mencari keindahan, ia mencari kebenaran yang menggugurkan seluruh keindahan palsu. Di antara suara burung hutan dan gemericik yang terjun dari dinding batu, ia mendengar bisikan yang lebih halus dari angin: panggilan ke jalan tanpa peta.

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku." (QS Al-Baqarah:186)

Kalimat itu bergema dalam dadanya. Bukan lewat hafalan, tapi seperti ditanamkan langsung oleh Cahaya yang tidak bersuara.

Ia terduduk di bawah pohon trembesi tua, menatap langit yang bergeser dari jingga ke ungu. Tangannya tak digerakkan oleh keinginan, tapi oleh getaran yang tak bisa dijelaskan. Ia menulis di udara:

"Aku mendekat bukan dengan kaki, tapi dengan kehancuran. Aku datang bukan untuk tahu, tapi untuk dihapus. Aku mencari bukan untuk menemukan, tapi untuk dilupakan dalam Yang Dicari."

Dan dari hatinya mengalir doa:

اللَّهُمَّ أَدْخِلْنِي فِي خُلْوَةِ الْمَحَبَّةِ، وَاخْفِنِي فِي سِرِّ الْفَنَاءِ، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ الرُّؤْيَا فِي لَيْلِ الْوُجُودِ.

Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam khalwat cinta, sembunyikan aku dalam rahasia kefanaan, dan bukakanlah bagiku pintu-pintu penyaksian dalam malam keberadaan ini.

Malam tiba. Tapi bukan kegelapan yang ia rasa. Justru terang yang aneh—terang yang tak menyilaukan, tapi menusuk. Dalam malam itu ia mendengar bisikan Hadis Qudsi yang pernah ia baca saat masih santri:

"وَإِذَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا..."

"Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta..."

Dan ia tahu, bahwa jalan ini bukan tentang banyaknya langkah, tapi tentang hilangnya 'aku'.

Lalu datanglah hujan. Perlahan. Tidak deras. Tapi seakan meneteskan rahmat dari satu dimensi ke dimensi lain. Di sinilah ia mengerti:

Tarekat ini bukan hasil baiat. Tidak ada mursyid. Tidak ada ijazah. Tidak ada silsilah. Yang ada hanya jalan sunyi yang dibuka oleh kehilangan.

Tarekat Mahiwaliyah. Jalan mereka yang terhapus. Jalan yang tidak diwariskan. Jalan yang muncul ketika tidak ada jalan. Jalan yang hanya ditunjukkan kepada mereka yang tidak tahu ke mana harus melangkah.

Ia menyebutnya dengan getar:

Mahiwaliyah.

Kata itu tidak diajarkan oleh siapa pun. Tapi hadir, seolah dibisikkan dari balik kabut oleh ruh-ruh para pencari yang telah lenyap dalam Kekasihnya.

Simbol-simbol alam berbicara kepadanya. Daun gugur berkata, “Aku tak mati, aku pulang.” Gemuruh curug berkata, “Aku tak jatuh, aku kembali.” Batu di pinggir jalan berkata, “Aku diam, tapi tak mati.”

Ia mulai memahami, bahwa segala yang ia lihat adalah pelajaran ruhani. Dalam istilah sufi: ‘ilm al-‘ālam al-mašhūd, ilmu dari dunia yang disaksikan.

اللَّهُمَّ أَرِنِي حَقَائِقَ الْأَشْيَاءِ كَمَا هِيَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَرَوْنَ بِقَلْبٍ نَقِيٍّ، وَيَفْهَمُونَ بِرُوحٍ مُتَّصِلَةٍ.

Ya Allah, perlihatkan padaku hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya, dan jadikan aku dari hamba-hamba-Mu yang melihat dengan hati yang jernih, dan memahami dengan ruh yang terhubung.

Dan ayat lain pun menggema:

﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ﴾

"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS Qaf:16)

Ia merasakan: tidak ada yang benar-benar jauh. Bahkan doa pun tidak harus dikirim—cukup dirasakan.

Dalam malam itu, ia bermimpi dalam keadaan terjaga. Ia melihat dirinya berjalan tanpa tubuh. Ia bertemu dengan seorang lelaki renta yang tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya tersenyum. Di tangannya, lelaki itu membawa cermin.

Sang pengelana menatap cermin itu—dan tak melihat apa-apa. Hanya cahaya. Dan dalam cahaya itu, ia pun larut.

Saat terbangun, dadanya mengucapkan sendiri:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَا أَرَى إِلَّا وَجْهَكَ، وَلَا أَسْمَعْ إِلَّا ذِكْرَكَ، وَلَا أَمْشِي إِلَّا فِي سَبِيلِكَ، وَأَمِتْنِي قَبْلَ أَنْ أَمُوتَ.

Ya Allah, jadikan aku tidak melihat kecuali Wajah-Mu, tidak mendengar kecuali zikir-Mu, tidak berjalan kecuali di jalan-Mu, dan matikan aku sebelum aku mati.

Maka berakhirlah prolog ini, bukan sebagai pembuka cerita biasa, tapi sebagai pembuka tirai.


Dan kelak, saat seorang musafir lain datang ke Curug Panganten dan mendengar sunyi......itulah tanda bahwa jalan ini belum ditutup.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ ٱلْغَافِلِينَ، وَلَا مِنَ ٱلْمَسْدُودِينَ، وَلَا مِمَّنْ رَأَوْا ٱلطَّرِيقَ فَرَجَعُوا، بَلِ ٱجْعَلْنَا مِمَّنْ لَا يَنْظُرُونَ سِوَاكَ، وَلَا يَسْكُنُونَ إِلَّا فِي حَضْرَتِكَ.

Ya Allah, jangan jadikan kami dari golongan yang lalai, atau dari mereka yang terhalang, atau dari mereka yang melihat jalan lalu berpaling, tapi jadikanlah kami dari mereka yang tidak memandang selain-Mu, dan tidak tenang kecuali dalam Hadirat-Mu.

Dan begitulah, langkah demi langkah, sang musafir menelusuri jalan batu yang basah, melewati akar-akar yang mencuat seperti jemari tua yang mencoba menahan dunia agar tidak jatuh lebih dalam. Langkahnya bukan semata perjalanan fisik, tapi peleburan batin. Setiap hembus nafasnya menjadi bait dalam dzikir sunyi, dan setiap detak jantungnya menjadi doa yang tak terucap.

Ia teringat akan kisah Rabi’ah al-Adawiyah yang menangis dalam gelap, bukan karena takut neraka atau rindu surga, tetapi karena cinta yang menghanguskan segalanya kecuali Allah. Ia pun berdoa dalam sunyi:

اللَّهُمَّ إِنِّي لَا أَطْمَعُ فِي جَنَّتِكَ، وَلَا أَخْشَى نَارَكَ، إِنَّمَا أَعْبُدُكَ لِأَنَّكَ أَنْتَ أَنْتَ.

Ya Allah, aku tidak berharap surga-Mu, dan aku tidak takut neraka-Mu. Aku menyembah-Mu karena Engkau adalah Engkau.

Batu-batu besar yang ia lewati tak hanya menandai jalan, tapi menjadi saksi. Mereka seperti menyimpan gema tangisan para wali dan sufi yang pernah sujud di sana. Dan dalam batinnya, ia tahu, ia bukan yang pertama menapaki jalan ini.

﴿فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا﴾

"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (QS Asy-Syams:8)

Jalan ini menuntut keterputusan. Bukan hanya dari harta dan nama, tapi dari setiap harapan yang masih menyisakan “aku”. Ia pun merenungi kalam Ibn ‘Ataillah dalam Hikam-nya:

"Tidak akan sampai kepada-Nya siapa yang masih terikat oleh sesuatu selain-Nya."

Dengan jubah yang mulai basah dan tubuh yang mulai dingin, ia tetap berjalan. Tapi hatinya justru hangat. Sebab ia sedang ditelanjangi dari dirinya sendiri.

اللَّهُمَّ اجْرِدْنِي مِنْ نَفْسِي، وَالْبِسْنِي نُورَ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنِي مِمَّنْ لَا يَرَى فِي الْوُجُودِ إِلَّا وَجْهَكَ.

Ya Allah, telanjangilah aku dari diriku, pakaikan padaku cahaya ibadah-Mu, dan jadikan aku termasuk orang yang tidak melihat dalam keberadaan ini kecuali Wajah-Mu.

Ia melanjutkan perjalanannya ke tepi curug. Di sana, air terjun jatuh seperti tangisan langit. Ia duduk di batu besar yang dingin, menghadap ke air, dan berdoa:

اللَّهُمَّ اسْقِنِي مِنْ مَاءِ الْمَعْرِفَةِ، وَغَسِّلْ قَلْبِي مِنْ دَنَسِ الْغَفْلَةِ، وَطَهِّرْنِي مِنْ كُلِّ مَا يَشْغَلُنِي عَنْكَ.

Ya Allah, siramilah aku dengan air ma'rifah, basuhlah hatiku dari kotoran kelalaian, dan sucikan aku dari segala yang menyibukkanku dari-Mu.

Ia pun tersentak oleh kehadiran suara lembut dalam hatinya:

"Jalan ini bukan tentang cepat atau lambat. Tapi tentang seberapa dalam kau berserah."

Dari kejauhan, kabut semakin tebal. Tapi bagi sang musafir, pandangannya justru semakin terang. Ia tidak melihat batu, air, atau pohon. Ia melihat Ayat. Ia membaca semesta sebagai wahyu sunyi.

﴿سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي ٱلْآفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ﴾

"Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar." (QS Fussilat:53)

Ketika fajar pertama menyentuh kabut Curug Panganten, ia menoleh ke belakang. Tidak ada jejak. Seolah bumi ikut menjaga rahasia langkahnya. Ia tersenyum. Sebab ia tahu: jalan ini tidak untuk dikenang, tapi untuk dilenyapkan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي أَثَرًا فِي أَثَرِ ٱلصَّالِحِينَ، وَسِرًّا فِي سِرِّ ٱلْعَارِفِينَ، وَفَنَاءً فِي بَقَاءِ نُورِكَ.

Ya Allah, jadikan aku jejak dalam jejak orang-orang saleh, rahasia dalam rahasia para arif, dan kefanaan dalam keabadian cahaya-Mu.

Dan dengan itu, prolog pun selesai. Bukan karena ia tuntas, tapi karena ia lenyap. Sunyi telah menjadi terang. Dan terang itu tidak perlu dijelaskan—cukup dirasakan oleh hati yang telah dikosongkan.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ ٱلْغَافِلِينَ، وَلَا مِنَ ٱلْمَسْدُودِينَ، وَلَا مِمَّنْ رَأَوْا ٱلطَّرِيقَ فَرَجَعُوا، بَلِ ٱجْعَلْنَا مِمَّنْ لَا يَنْظُرُونَ سِوَاكَ، وَلَا يَسْكُنُونَ إِلَّا فِي حَضْرَتِكَ.

Ya Allah, jangan jadikan kami dari golongan yang lalai, atau dari mereka yang terhalang, atau dari mereka yang melihat jalan lalu berpaling, tapi jadikanlah kami dari mereka yang tidak memandang selain-Mu, dan tidak tenang kecuali dalam Hadirat-Mu.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mahiwaliyah “Jalan Sunyi Tanpa Peta”"

Post a Comment