Majelis Gus Muna di Serambi: Malam Renungan

Majelis Gus Muna di Serambi: Malam Renungan

Angin malam mengusap pelan daun jendela. Di serambi surau, empat orang duduk melingkar. Rokok kretek Mbah Kimung mengepulkan asap tipis. Lampu gantung redup, seperti sengaja meredam nafsu dunia.

Gus Muna (suara pelan, nadanya seperti air mengalir tapi menghunjam):
“Aku heran, kata Allah. Heran sama manusia. Sudah tahu mati itu pasti, kok masih bisa bersenda gurau seolah-olah hidup selamanya.”

Mbah Kimung (menyaut sambil garuk-garuk kepala, suaranya serak):
“Hehe, yo piye Gus… wong nek gak guyon, ati tambah kecut. Wong tua kayak aku ini kalau mikir mati terus, ndak ndulit malah.”

Mas Rimbo (nyengir, matanya nakal):
“Betul, Mbah. Wong hidup udah ruwet. Kalau mikir kuburan terus, nanti malah stress massal. Lha wong cicilan aja belum lunas kok disuruh mikir liang lahat.”

Gus Muna (senyum tipis, tapi matanya tajam):
“Mas Rimbo, cicilan dunia bisa ditunda. Tapi cicilan akhirat? Nggak ada DP, langsung lunas saat nyawa dicabut.”

Mas Tirman (dari tadi diam, tiba-tiba angkat tangan dengan polos):
“Gus… saya ini sering denger, katanya Allah heran sama manusia yang tahu dunia fana, tahu mati, tahu hisab… tapi kok ya tetep nguber dunia. Allah itu bisa heran, ya Gus?”

Gus Muna (menghela nafas, mengusap serban di pahanya):
“Herannya Allah itu bukan karena nggak tahu, Tirman. Tapi itu bahasa sindiran buat kita. Bahasa yang bikin kita mikir: ‘Kok bisa ya manusia ngono terus?’ Itu bukan heran karena bodoh, tapi peringatan karena sayang.”

Mas Rimbo (nyeletuk sambil nyengir):
“Ya memang aneh, Gus. Lha wong saya ini tiap hari ngurusin urusan orang, padahal urusan sendiri aja nggak kelar.”

Gus Muna (senyum, nadanya setengah bercanda setengah menegur):
“Nah itu, Mas Rimbo. Allah juga heran sama orang yang sibuk ngurusin aib orang lain, padahal aibnya sendiri keleleran kayak pakaian jemuran.”

Mbah Kimung (sambil mematuk-matukkan rokok ke asbak tanah liat):
“Aku iki Gus, jujur. Shalat ya shalat, tapi kok yo kadang kayak kosong. Ora ono rasane.”

Gus Muna (suara pelan, lirih):
“Mbah Kimung… hati itu kadang memang keras. Kalau mau lunak, ya harus dipukul-pukul pakai dzikir. Biarin pelan asal istiqamah. Jangan nunggu sempurna, nanti malah nggak mulai-mulai.”

Mas Tirman (nunduk, tapi matanya menyala):
“Gus, saya kok mikir… orang pinter malah kadang lebih lupa mati, ya? Ilmunya tinggi, tapi perbuatannya kayak nggak kenal kubur.”

Gus Muna (nada berat, tapi tetap lembut):
“Itulah, Mas Tirman. Orang pinter itu bisa jadi malah bahaya kalau ilmunya cuma nempel di kepala, nggak turun ke dada. Alim lisannya, tapi bodoh hatinya. Itu yang Allah sebut dalam firman-Nya.”

Mas Rimbo:
“Gus, jadi kita ini sebenernya tahu semua: mati sendiri, masuk kubur sendiri, dihisab sendiri… Tapi kok ya tetep aja rebutan dunia rame-rame. Kenapa, Gus?”

Gus Muna (tersenyum pahit):
“Karena kita ini, Mas Rimbo, kayak anak kecil di pasar malam. Lihat lampu kelap-kelip, lari-lari kegirangan. Padahal bentar lagi lampunya padam. Yang tersisa cuma sunyi. Dan hisab.”

[Hening. Angin malam lewat pelan di sela-sela kayu jendela.]

Gus Muna (suara nyaris bisikan, seperti doa):
“Ya Allah… jangan biarkan kami tertidur dalam keramaian dunia. Bangunkan kami sebelum ajal membangunkan kami di liang kubur. Jadikan hati kami hidup sebelum badan kami mati. Amin…”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Majelis Gus Muna di Serambi: Malam Renungan"

Post a Comment