Majelis Gus Muna: Tentang Qana'ah dan Dunia
Latar: Malam di Serambi Surau
Malam itu dingin menyusup halus ke sela-sela anyaman bambu di serambi surau. Lampu teplok bergoyang kecil ditiup angin, cahayanya memantulkan bayangan wajah yang duduk melingkar. Aroma kopi pahit dan tembakau murahan mengambang di udara.
Di sana, Gus Muna duduk memimpin, dengan sorban sederhana melingkar di lehernya. Wajahnya teduh, suaranya lembut, tapi kadang tiba-tiba menohok.
Malam itu majelis rutin kembali digelar, dengan tema yang seolah sederhana: Qana’ah dan Dunia.
Gus Muna (membuka dengan suara pelan, menatap satu per satu):
“Allah berfirman:
‘Wahai manusia, bersikaplah qana'ah, niscaya kau akan kaya. Tinggalkanlah iri, niscaya kau akan tenang. Hindarilah yang haram, niscaya agamamu akan bersih. Dan barang siapa meninggalkan gibah, akan tampak cinta-Ku kepadanya.’
Nah… kira-kira kita ini masuk yang mana? Yang qana’ah atau yang rakus?”
Mbah Kimung (menyender ke dinding, nyeletuk):
“Hehehe… aku setengah-setengah, Gus. Nek ndak punya duit ya bilang qana’ah. Tapi nek dikasih duit yo tambah ngiler.”
Mas Rimbo (menimpali sambil ngeteh):
“Lha itu Mbah Kimung, qana’ahnya model ‘terpaksa’. Kere kok sok nrimo. Nek punya duit yo tetap ndak puas!”
Mas Tirman (dengan polos tapi nyelekit):
“Mas Rimbo jangan ngomong gitu, sampeyan juga! Ngomongnya sok zuhud, padahal tiap hari status WA-nya nyindir orang kaya.”
Gus Muna (tersenyum, lalu membaca syair):
"Wahai dunia,
aku talak tiga padamu.
Tak mungkin rujuk meski kau rayu.
Manis wajahmu hanya tipuan,
Di balik senyummu ada jebakan."
[Mereka terdiam sejenak. Tapi seperti biasa, setelah suasana hening, guyonan mulai lagi.]
Mbah Kimung (melirik Kang Samsuri yang diam saja):
“Lha Kang Samsuri dari tadi meneng wae. Jangan-jangan sudah talak telu beneran karo dunia?”
Mas Rimbo (langsung nyeletuk):
“Talak telu kok isih ngutang di warung Bu Sarti. Jangan sok zuhud, Kang! Paling di rumah mikir utang.”
Mas Tirman (ikut nimbrung):
“Yo wes, biarin Kang Samsuri diam. Mungkin lagi latihan menahan nafsu. Tapi ojo keterusan, Kang… nanti malah dikira ndak paham apa-apa.”
[Kang Samsuri tetap diam. Bibirnya bergerak lirih, entah zikir, entah nahan tawa. Tapi matanya teduh.]
Gus Muna (melanjutkan dengan lembut):
“Allah juga bersabda:
‘Hai manusia, engkau bekerja untuk dunia seakan tak akan mati besok. Kau kumpulkan harta seakan-akan kau abadi selamanya.’
Nah, ini penyakit kita semua.”
Mas Tirman (mengangguk pelan):
“Berarti kita ini, Gus… kebanyakan ngoyoh ya? Seolah-olah ndak bakal mati.”
Mas Rimbo:
“Lha piye, Mas Tirman. Nek ndak kerja keras, ya keluwen. Wong saiki serba duit!”
Gus Muna (tersenyum, tapi nadanya menohok):
“Kerja itu wajib, Mas Rimbo. Tapi hatinya jangan tergadai. Nabi ﷺ bersabda:
‘Bukanlah kaya itu karena banyak harta, tapi kaya itu karena hati yang qana’ah (merasa cukup).’
(HR. Bukhari Muslim)”
Mbah Kimung (ngudud pelan, tapi nyeletuk lagi):
“Aku ini Gus… kadang iri, tapi yo ndak mau ngaku. Lha piye, wong lihat tetangga ganti mobil kok rasane nggerundel.”
Mas Rimbo (ceplas-ceplos):
“Lha Mbah Kimung iri, aku rakus. Bedane tipis! Wong kabeh ya rebutan dunia.”
Gus Muna (membacakan syair lagi):
"Wahai dunia,
carilah orang yang zuhud padamu,
Jangan dekati yang rakus,
sebab engkau akan jadi racun bagi mereka.
Tapi bagi yang cukup,
engkau jadi sekedar titipan."
Penutup
Gus Muna (melihat waktu sudah larut, ia mengangkat tangan):
“Ayo kita tutup majelis ini dengan sholawat dan doa. Supaya obrolan kita ini ndak cuma jadi guyonan, tapi benar-benar jadi penghapus dosa.”
Sholawat
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad,
kepada keluarganya, dan para sahabatnya.
Shalawat yang menjadi penyejuk hati kami,
pembuka rezeki kami,
penenang pikiran kami,
penghapus dosa kami,
dan pembuka jalan menuju ridha-Mu, ya Allah."
Doa Penutup
"Ya Allah,
Jadikanlah kami orang-orang yang merasa cukup dengan pemberian-Mu,
jauh dari iri dan dengki,
selalu menjaga lisan dari gibah dan fitnah,
selalu bersih dari makanan yang haram,
selalu ingat mati dan tidak terlena dengan dunia.
Ya Allah,
Bimbing kami agar lebih banyak mengamalkan ilmu daripada sekadar membicarakannya.
Jadikanlah majelis ini sebab bertambahnya iman,
sebab terhapusnya dosa-dosa kecil dan besar kami,
dan sebab terkabulnya doa-doa kami yang tersembunyi dalam hati.
Ya Allah,
Berikanlah kami husnul khatimah saat mati nanti.
Kumpulkan kami kelak bersama Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para kekasih-Mu.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin."
Suasana Menutup
[Mereka mengusapkan tangan ke wajah.
Beberapa tertawa pelan, beberapa menghela napas panjang.
Masing-masing pulang membawa renungan:
“Jangan-jangan aku ini sudah terlalu lama bercanda dengan dunia, sampai lupa caranya bercanda dengan akhirat.”]
0 Response to "Majelis Gus Muna: Tentang Qana'ah dan Dunia"
Post a Comment