Majelis Malam: Tentang Ridha dan Angan-angan
Surau tua di malam hari. Angin merayap pelan di sela dinding bambu. Beberapa orang duduk melingkar, wajah-wajah letih tapi haus nasihat.
Di pojok, Samsuri duduk diam seperti biasanya. Matanya menunduk, bibirnya kadang bergetar kecil, entah istighfar atau dzikir pelan yang tak terdengar.
Gus Muna (membuka dengan nada pelan, sambil melihat wajah satu per satu):
“Allah itu sudah bersabda, lho, Bapak-bapak. Barang siapa yang nggak ridha dengan ketetapan-Nya, disuruh cari Tuhan lain. Nah… kira-kira ada yang berani?”
Mbah Kimung (langsung nyeletuk):
“Hehehe… ora wani, Gus. Nek aku sih manut. Wong nyari Tuhan lain yo ora nemu-nemu. Kecuali nek Mas Rimbo, mungkin bisa nemu Tuhan baru di warung kopi.”
Mas Rimbo (balas nyengir):
“Lha piye, Mbah… wong di warung kopi itu isinya orang-orang sok pinter semua, kadang ngomongnya kayak Tuhan. Ndak salah nek aku cari ‘pencerahan’ di situ.”
Mas Tirman (dengan polos, tapi malah nyelekit):
“Yo pantes, Mas Rimbo tambah bingung. Wong gurunya saja tukang debat warung.”
Mas Rimbo (nyeplos):
“Lho, Mas Tirman, ngomongmu kok pinter, padahal kelihatannya bodoh? Jangan-jangan pura-pura lugu biar nggak disuruh ceramah?”
Mas Tirman (senyum kecut):
“Ya daripada Mas Rimbo, keliatannya pinter tapi aslinya ya… gitu.”
Mbah Kimung (tertawa cekikikan):
“Hahaha… bener iki, Tirman! Mas Rimbo itu kayak teko kosong, suarane rame, isine ora ono!”
[Kang Samsuri dari tadi diam, memegang tasbih. Tapi tetap saja, diamnya malah bikin sasaran empuk.]
Mas Rimbo (melirik Kang Samsuri, nyeletuk sambil ngakak kecil):
“Lha itu, Kang Samsuri lebih parah. Dari tadi diam aja, kayak patung di pojokan. Jangan-jangan Kang Samsuri ini udah ridha sama semua takdir karena ndak pernah komen!”
Mbah Kimung (ikut menimpali):
“Atau jangan-jangan Kang Samsuri itu ndak ngerti apa-apa, makanya diam. Mbuh ridha, mbuh ora ridha, pokoknya meneng!”
Mas Tirman (nambahin, sambil setengah membela):
“Wes, biarin aja Kang Samsuri. Kadang yang diem itu justru mikir dalam. Cuma… ya jangan keterusan. Wong diem terus yo ndak ngerti-ngerti.”
Gus Muna (tertawa pelan, menengahi):
“Hehehe… Kang Samsuri itu memang ilmunya ‘ilmu meneng’. Nggak banyak omong, tapi mungkin hatinya sedang ngobrol sama Allah.”
Mas Rimbo (celetuk lagi, nggak mau kalah):
“Ngobrol sama Allah kok ndak pernah kedengeran, Gus? Jangan-jangan malah ketiduran!”
Mbah Kimung:
“Ya itu, Rimbo. Kalo Kang Samsuri ndak ngomong, minimal ndak nambah dosa ngomong. Coba sampeyan, tiap ngomong nambah rekening dosa!”
Suasana makin cair, tapi tetap masuk ke pembahasan serius.
Gus Muna (melanjutkan dengan nada lebih dalam):
“Allah juga bilang, siapa yang tiap pagi sedih karena urusan dunia, itu sama aja nuding Allah. Bilangnya: ‘Kok rezekiku segini?’ Nah itu sama aja protes sama Gusti Allah.”
Mas Tirman:
“Berarti kita ini sering marah sama Allah ya, Gus? Soalnya tiap pagi bangun kok yo pikirane duit mulu.”
Mas Rimbo (nyeletuk):
“Lha wong duit buat beli makan, Mas Tirman. Ndak mikir duit yo mati keluwen!”
Mbah Kimung:
“Tapi ojo sampe kabeh mikire duit thok, Rimbo. Nek kabeh mikire duit, nanti pas mati malah repot. Mayitnya ditimbang dulu, bayarannya berapa!”
Gus Muna (tersenyum lebar):
“Hehehe… bener, Mbah. Kita ini hidup ya butuh duit, tapi jangan sampe duit jadi Tuhan kecil di kepala kita. Ingat, barang siapa panjang angan-angan, amalnya itu rusak.”
[Kang Samsuri masih diam. Tapi kali ini wajahnya senyum tipis. Ia tahu, diamnya dijadikan bahan bercanda, tapi ia biarkan saja. Dalam hatinya, justru ia sedang berdzikir.]
Mas Rimbo (melirik Kang Samsuri lagi, nggak tahan buat nyeletuk):
“Lha itu Kang Samsuri, angan-angane malah ora ketok. Jangan-jangan saking ndak punya angan-angan, hidupnya flat-flat wae.”
Mbah Kimung (ketawa):
“Yo wis apik, Rimbo. Wong saiki akeh sing angan-angane kepanjangan, pengin dadi kabeh. Lha Kang Samsuri wis pasrah. Paling-paling angan-angane cuma pengin nggolek selamet.”
Gus Muna (mengakhiri dengan senyum):
“Hehehe… Wes, sing penting ojo su’udzon karo Kang Samsuri. Kadang yang paling diam itu yang paling takut dosa. Dan kadang yang paling banyak omong, malah lupa sama hisab.”
Penutup
Malam itu majelis bubar dengan tawa-tawa ringan yang menyisakan renungan berat.
Kang Samsuri pulang paling akhir. Diam, tapi dadanya bergemuruh.
Ia tahu, kadang diam itu bukan karena nggak tahu apa-apa—tapi karena takut bicara tapi lupa mengamalkan.
0 Response to "Majelis Malam: Tentang Ridha dan Angan-angan"
Post a Comment