Majelis Gus Muna: Tentang Tobat, Angan-angan, dan Rumah Kubur
Latar Suasana Sebelum Dialog
Malam itu angin bertiup lebih dingin dari biasanya.
Bulan tertutup awan, suara jangkrik pun seperti malas keluar.
Di langgar tua, tikar pandan tergelar di lantai kayu yang mulai kusam.
Malam itu, hujan tidak turun, tapi udara berat seperti membawa isyarat.
Tema yang akan dibahas: Tobat, angan-angan, dan kematian.
Pembukaan Majelis
Nasihat Gus Muna
Gus Muna membuka dengan suara lirih:
“Allah berfirman:
Wahai manusia, janganlah kau termasuk orang yang menyepelekan tobat, memanjangkan angan-angan, berharap akhirat tanpa beramal;
mengucapkan ucapan para ahli ibadah, tetapi mengerjakan amalan orang-orang munafik.
Jika diberi, ia tak puas. Bila tak diberi, ia tak sabar. Ia menyerukan kebaikan, namun tak melakukannya. Ia melarang keburukan, tapi tak meninggalkannya.”
Dialog dan Guyonan Ringan
Mbah Kimung nyeletuk sambil nyengir:
“Halah… lha itu kok persis aku, Gus.”
Mas Rimbo ikut nyeletuk:
“Kalau begitu, kita semua ini pesakitan, Gus.
Katanya tobat, tapi kalau ada godaan, ya nglencer maneh.”
Mas Tirman mengerutkan dahi:
“Berarti kita ini kayak ngomong surga, tapi langkahnya malah ke jurang, Gus?”
Gus Muna mengangguk:
“Persis, Man. Nabi ﷺ pernah bersabda:
‘Orang yang cerdas adalah yang banyak mengingat mati dan bersiap untuk sesudahnya.
Sedangkan orang bodoh adalah yang mengikuti hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah.’
Kematian itu pasti. Kubur sudah siap menelan kita. Dunia ini cuma ruang tunggu, Man. Bukan rumah tinggal.”
Pengingat dari Kang Samsuri
Kang Samsuri, yang dari tadi diam, tiba-tiba bicara:
“Gus… saya jadi ingat ayat ini:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
‘Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.’ (Ali Imran: 185)”
Mas Rimbo nyeletuk lagi, setengah guyon:
“Lha iya, Kang… tapi kok kita seringnya berlagak hidup selamanya?
Angan-angan kok dibangun kayak mau pensiun di dunia, padahal mati itu nggak nunggu tua.”
Syair Gus Muna
"Duhai diri…
Dunia hanya serupa bayang-bayang,
kau kejar makin jauh, kau lepaskan makin dekat.
Jangan terlalu gemar membangun mimpi,
sampai lupa menggali liang lahad sendiri.
Ingatlah…
Setiap nafas adalah langkah menuju perut bumi,
dan setiap malam adalah janji yang bisa saja tak kita jumpai pagi."
Nasihat tentang Kematian
Firman Allah tentang Rumah Kubur
“Allah berfirman:
Duhai manusia, tak ada satu hari baru, melainkan bumi menyapamu dengan berkata:
Wahai manusia, kau berjalan di atasku, tapi kelak akan masuk ke perutku.
Kau makan syahwat di atasku, tapi kelak kau akan dimakan oleh ulat-ulat di perutku.
Aku adalah rumah kegelapan, rumah ular dan kalajengking. Maka bangunlah aku, jangan kau hancurkan dirimu.”
Dialog tentang Kubur
Mbah Kimung nyeletuk lagi, setengah bercanda setengah takut:
“Walah, Gus… ngeri banget. Rumah ular kok. Lha terus yang ora pernah mikir kubur, piye?”
Mas Rimbo nimbrung:
“Ya itu, Mbah. Banyak orang mikirnya rumah dunia, lupa rumah terakhir.
Bikin rumah mewah, tapi liang kuburnya bocor nggak dipikir.”
Mas Tirman menunduk:
“Berarti, Gus… yang lebih bahaya itu bukan miskin atau kaya, ya?
Tapi lupa sama mati?”
Gus Muna tersenyum tipis:
“Betul, Man.
Kaya boleh, asal nggak lupa akhirat.
Miskin nggak apa-apa, asal jangan miskin amal.”
Hening Menutup Percakapan
Angin malam makin dingin.
Langit desa semakin kelam, lampu teplok berkedip-kedip.
Tidak ada yang bicara lagi. Semua menunduk, masing-masing seperti dihadapkan dengan liang kuburnya sendiri-sendiri.
Sholawat dan Doa Penutup
Sholawat
"Ya Allah…
Limpahkanlah sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ,
sang kekasih yang membangunkan kami dari tidur panjang.
Ya Rasulullah…
Kami ini lemah, lalai, dan sering pura-pura lupa.
Tapi kami tahu, cinta-Mu tetap mengalir kepada umat-Mu.
Ya Allah…
Dengan sholawat ini, basuhlah hati kami yang keruh,
putuskanlah belenggu angan-angan dunia,
dan tuntunlah kami menuju cahaya-Mu yang abadi."
Doa Gus Muna
"Ya Allah…
Malam ini kami menyebut nama-Mu dengan kepala menunduk,
karena kami sadar, hidup kami dipenuhi kelalaian.
Ya Allah…
Kami sering menunda tobat, seakan umur ini panjang.
Kami sering memanjangkan angan-angan,
seakan kematian belum di depan pintu.
Ya Allah…
Ampuni kami yang sering mengatakan kebaikan, tapi melupakannya.
Ampuni kami yang melarang keburukan, tapi tetap melakukannya.
Ya Allah…
Jadikan kubur kami taman cahaya, bukan lubang siksaan.
Selamatkan kami dari azab, dari kegelapan liang lahad,
dan kumpulkan kami bersama Nabi Muhammad ﷺ di akhirat nanti.
Ya Allah…
Akhirkan hidup kami dengan husnul khatimah.
Dan jadikan kami hamba yang selalu ingat kepada-Mu sebelum Engkau memanggil kami pulang."
Suasana Setelah Doa
Hening.
Tak ada yang langsung berdiri.
Mbah Kimung mengusap matanya, Mas Rimbo mendongak menatap langit yang tak berbintang.
Mas Tirman masih memeluk lutut, dan Kang Samsuri menutup wajahnya dengan tangan.
Mereka pulang malam itu dengan dada lebih ringan, tapi hati lebih sadar.
Bahwa dunia ini tak pantas terlalu dipegang erat.
Dan setiap langkah, sejatinya sedang menuju rumah yang bernama kubur.
0 Response to "Majelis Gus Muna: Tentang Tobat, Angan-angan, dan Rumah Kubur"
Post a Comment