Antara Nyamuk, Makna Kehidupan, dan Jalan Pulang

Antara Nyamuk, Makna Kehidupan, dan Jalan Pulang

Langit sudah menjingga tua saat majelis langgar itu masuk ke sesi tafsir berikutnya.

Angin malam bertiup pelan, menggoyangkan daun kelapa yang terdengar samar di kejauhan.

Di langgar kecil beratap genting itu, lampu teplok menggantung, cahayanya berpendar kekuningan.

Aroma kopi dan asap rokok kretek tipis-tipis masih mengendap. Suasana agak rileks, namun tetap serius.

Beberapa santri duduk selonjoran, lainnya duduk bersila.

Gus Muna membuka kitab lusuhnya, menatap jamaah dengan mata yang separuh bercanda, separuh tajam seperti silet.

Gus Muna:
"Saudara-saudaraku…
Sekarang kita masuk ke ayat yang sering bikin orang cemberut.
Tapi malam ini saya pingin bikin kalian senyum sambil mikir.
Mas Samsuri, coba baca Al-Baqarah ayat 26-29, sing becik."

Mas Samsuri (membaca dengan khusyuk dan suara pelan berat):

"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Maka orang-orang yang beriman mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhan mereka. Tetapi orang-orang yang kafir berkata, 'Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?' Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang disesatkan-Nya dan banyak pula yang diberi petunjuk-Nya. Tetapi tidak ada yang disesatkan-Nya kecuali orang-orang fasik."
(Al-Baqarah 26)

"(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambung, dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi."
(Al-Baqarah 27)

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkan kamu; kemudian Dia mematikan kamu, lalu menghidupkan kamu kembali, lalu kepada-Nya-lah kamu dikembalikan."
(Al-Baqarah 28)

"Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu, kemudian Dia menuju langit, lalu menjadikannya tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
(Al-Baqarah 29)

Mas Tirman:
"Gus, kok Allah nyontohin nyamuk? Padahal kecil, remeh temeh?"

Mas Rimbo:
"Yo bener, Man. Mbok ya langsung jin Ifrit atau singa kek, biar keren. Ini kok nyamuk?"

Gus Muna:
"Saudara-saudaraku…
Justru di situ rahasianya. Allah itu Maha Besar tapi juga Maha Halus. Jangan sombong!
Kalau cuma bisa melihat yang gede-gede, itu tanda hati kalian ketutup kabut ego.
Nyamuk itu kecil, tapi coba mikir: di balik kepakan sayapnya ada hukum Allah.
Dia punya sistem darah, jantung, dan otak mikro.
Kalian bisa bikin nyamuk dari nol? Nggak bisa!
Makanya Allah pakai contoh nyamuk buat ngetes siapa yang masih mau mikir dan siapa yang mentok di sombong."

Mas Amad (setengah bercanda, sambil nyengir):
"Berarti yang suka ngeremehin nyamuk, rawan kufur ya, Gus?"

Gus Muna:
"Amad! Jangan cuma mikir kulitnya. Ini soal sikap batin!
Orang yang fasik itu bukan karena nggak ngerti, tapi karena nggak mau ngerti.
Allah kasih perumpamaan itu buat buka pintu makrifat.
Tapi yang keras hati, malah mingkem kuping, nutup hati, kayak kena lilin panas!"

Mas Dede (sambil ngelap kamera handphonenya):
"Gus, yang dimaksud orang fasik itu yang gimana?"

Gus Muna:
"Fasik itu yang melanggar janji sama Allah.
Lah kita ini semua dulu di alam ruh udah janji: Alastu birabbikum? Qalu bala.
‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Kita jawab: ‘Iya, ya Allah!’
Eh pas turun ke bumi, malah lupa. Putus tali silaturahim, bikin kerusakan di bumi, ngejatuhin orang lain, tukaran soal dunia.
Itu fasik."

Mas Kholil:
"Gus, ini berarti kalau ada yang ngaku bener tapi malah ngrusak, ya itu fasik?"

Gus Muna:
"Betul, Kholil. Sekarang banyak yang bawa bendera kebaikan, tapi isinya sabotase.
Ngakunya dakwah, tapi isinya maki-maki.
Katanya cinta Allah, tapi benci sesama.
Itu ciri khas golongan fasik yang disetelin loudspeaker!
Kebaikan itu harus lembut, nggak bisa sambil nuding-nuding."

Mbah Kimung (suara pelan, bijak):
"Gus, kalau kita udah kadung banyak dosa, gimana caranya balik lagi?"

Gus Muna:
"Saudara-saudaraku…
Ayat ini ngasih pesan penting.
Allah itu selalu memberi kesempatan.
Dulu kita mati (ruh), lalu dihidupkan (lahir ke dunia).
Nanti kita mati lagi (kubur), terus hidup lagi (akhirat).
Jadi, jangan takut dosa, takutlah nggak mau taubat.
Karena siapa yang sadar, itu tandanya Allah masih sayang."

"Jangan pandang kecil perumpamaan,
Karena hakikat sering tersembunyi di hal-hal sederhana.
Yang sombong dengan akal, tersesat di gelap.
Yang rendah hati, akan diselamatkan oleh cahaya."

Lampu teplok nyaris padam. Angin dini hari mulai menggedor-gedor jendela kayu yang rapuh.

Langgar tua itu seperti kapal kecil di tengah samudera malam.

Semua terdiam. Hening yang panjang itu bukan canggung, tapi tanda hati sedang tenggelam.

Gus Muna memejamkan mata, suaranya gemetar menahan haru:

"Ya Allah…
Kami bershalawat kepada Nabi-Mu yang mulia.
Dengan cahayanya, kami bisa melihat jalan pulang.
Dengan cintanya, kami tahu arah.
Ya Rasulullah…
Kami rindu padamu, walau belum pantas.
Kami cinta padamu, walau masih penuh cela.
Bersihkan hati kami dari kemunafikan,
Bimbing kami dari gelap menuju terang,
Tuntun kami sampai lebur dalam cinta Allah."

Angin semakin pelan, seolah ikut mendengarkan. Semua jamaah menunduk, tak ada yang berani memecah suasana.

Kopi sudah dingin. Rokok sudah habis. Yang tersisa hanya batin yang ingin bersimpuh lebih lama.

Gus Muna memimpin dengan suara lirih:

"Ya Allah…
Jika Engkau menutup pintu-Mu, ke mana kami akan pergi?
Jika Engkau berpaling, ke mana kami akan mengadu?
Kami ini fakir ya Allah,
Kami ini kotor ya Allah,
Kami ini lemah ya Allah.
Tapi kami datang malam ini,
Dengan hati gemetar,
Dengan jiwa yang ingin Engkau sentuh.
Ya Allah…
Jika Engkau menerima taubat kami, itu karena rahmat-Mu.
Jika Engkau mengampuni kami, itu karena kasih-Mu.
Jika Engkau menolak kami,
Kami tetap tidak akan beranjak dari pintu-Mu."

Langgar mulai kosong. Satu per satu mereka berdiri, memunguti sajadah.

Udara subuh mulai terasa. Langit di ufuk timur perlahan berubah dari hitam menjadi biru keabu-abuan.

Ayam kampung mulai berkokok dari kejauhan.

Mas Udin nyeletuk sambil nyengir:
"Gus, kowe iki ceramah kok kayak bikin orang nangis, tapi juga ketawa."

Gus Muna:
"Yo ngono Din, hidup itu ibarat ngopi pait dicampur gula…
Kadang pahit, kadang manis. Tapi tetap diminum bareng-bareng."

Mas Diro:
"Asal jangan kopinya basi, Gus!"

Semua tertawa, tapi di balik tawa itu ada hati yang mulai tercerahkan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Antara Nyamuk, Makna Kehidupan, dan Jalan Pulang"

Post a Comment