Ketika Rindu Menjadi Samudra dan Cinta Menjadi Api yang Membakar Ego

Yā Rabb, Yā Rabb, Yā Rabb…

Wahai Engkau yang telah menjadikan hati sebagai mihrab untuk mengenal-Mu,

dan ruh para arifin sebagai cermin bagi keindahan-Mu.

Yā Rabb, Yā Rabb, Yā Rabb…
Engkaulah yang menyalakan api cinta di dalam dada para kekasih-Mu,
Engkaulah yang menaburkan bara rindu di dalam hati para ‘ārifīn,
Engkaulah yang menjadikan malam-malam panjang terasa singkat dalam dzikir kepada-Mu,
dan siang-siang yang berat menjadi ringan karena bayangan kasih-Mu.

Yā Rabb…
Bagaimana mungkin hati ini dapat tenteram tanpa cinta-Mu?
Bagaimana mungkin ruh ini dapat hidup tanpa rindu kepada-Mu?
Bagaimana mungkin jiwa ini dapat damai tanpa Engkau yang menjadi penentram segala jiwa?

Yā Rabb…
Engkaulah tujuan kerinduan, Engkaulah qiblat cinta,
Engkaulah yang mengajarkan kepada kekasih-Mu yang agung, Muḥammad ,
bahwa طه، ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى,
wahai kekasih-Ku, Al-Qur’an ini adalah cahaya untuk kebahagiaan, bukan kesengsaraan,
rahmat untuk cinta, bukan beban yang mematahkan.

Maka, Yā Rabb, jadikanlah kami mabuk dalam cinta-Mu sebagaimana para wali-Mu,
larut dalam kerinduan sebagaimana para pecinta-Mu,
hancur dalam syauq sebagaimana jiwa-jiwa yang Engkau pilih untuk menyaksikan-Mu.

Yā Rabb… Yā Rabb… Yā Rabb…
Cinta-Mu adalah nyala api yang membakar dosa-dosaku.
Rindu-Mu adalah samudra luas yang menenggelamkan segala ketakutanku.
Kasih-Mu adalah angin lembut yang meniupkan kehidupan ke dalam tulang-tulangku.

Yā Rabb…
Apakah Engkau akan mengusir orang yang mengetuk pintu-Mu dengan air mata cinta?
Apakah Engkau akan menghalau orang yang memanggil-Mu dengan suara rindu?
Apakah Engkau akan menolak orang yang jatuh tersungkur karena haus akan hadirat-Mu?

Yā Rabb…
Jika Engkau menolak hamba yang penuh cinta ini,
kemana lagi cinta ini akan pergi?
Jika Engkau menutup pintu bagi jiwa yang penuh rindu ini,
kepada siapa lagi kerinduan ini akan dititipkan?

Yā Rabb…
Aku rindu kepada-Mu sebagaimana Musa rindu kepada Sinai.
Aku rindu kepada-Mu sebagaimana Ibrahim rindu kepada Ka‘bah.
Aku rindu kepada-Mu sebagaimana Muhammad rindu kepada mi‘raj di Sidrat al-Muntahā.
Aku rindu kepada-Mu sebagaimana para pecinta-Mu rindu pada tajallī wajah-Mu.

Yā Rabb…
Engkaulah cahaya dalam gelapku,
Engkaulah air dalam dahagaku,
Engkaulah nafas dalam sempitku,
Engkaulah nyawa dalam matiku.

Yā Rabb… Yā Rabb… Yā Rabb…
Biarkan cinta ini melelehkan seluruh tabir egoku.
Biarkan rindu ini membakar seluruh nafsuku.
Biarkan syauq ini mencairkan seluruh dinding hati yang keras.
Biarkan mahabbah ini menjadikan aku fana dalam-Mu,
hingga tiada aku selain Engkau,
tiada suara selain suara-Mu,
tiada wujud selain cahaya-Mu.

Yā Rabb…
Jika para pecinta dunia larut dalam kesenangan,
biarkan aku larut dalam cinta kepada-Mu.
Jika para pemburu harta larut dalam perbendaharaan fana,
biarkan aku larut dalam harta yang kekal: keridhaan-Mu.
Jika para penguasa larut dalam singgasana mereka yang rapuh,
biarkan aku larut dalam singgasana-Mu yang abadi.

Yā Rabb…
Aku tidak ingin surga jika tanpa Engkau.
Aku tidak takut neraka jika Engkau bersamaku.
Karena surga sejati adalah bersama-Mu,
dan neraka sejati adalah terhijab dari-Mu.

Yā Rabb… Yā Rabb… Yā Rabb…
Cinta ini adalah cahaya yang tak bisa dipadamkan,
rindu ini adalah api yang tak bisa dipadamkan,
kasih ini adalah rahasia yang tak bisa dihapuskan.

Maka, Yā Rabb, biarkan aku mabuk dalam anggur cinta-Mu,
biarkan aku tenggelam dalam samudra rindu-Mu,
biarkan aku fana dalam keindahan wajah-Mu,
dan baqā dengan Engkau selamanya.

  

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Rindu Menjadi Samudra dan Cinta Menjadi Api yang Membakar Ego"

Post a Comment