Pelita Ayah di Jalan Hidayah
Nasehat ayah untuk putra-putrinya
Wahai cahaya jantung ayah,
jalan hidup ini panjang dan penuh persimpangan.
Peganglah tali Allah yang tak pernah putus,
sebagaimana firman-Nya: “Wa‘taṣimū biḥablillāhi jamī‘an wa lā tafarraqū”
(QS. Āli ‘Imrān: 103).
Karena siapa yang berpaut pada-Nya,
takkan hanyut dalam deras arus dunia.
Anak-anakku,
jangan biarkan hatimu keras oleh debu dunia,
basuhlah ia dengan dzikir,
sebab Allah berfirman: “Alaa bidhikrillāhi taṭma’innul-qulūb”
(QS. Ar-Ra‘d: 28).
Ingatlah, hati yang tenteram adalah lentera
yang menuntun kaki di malam gelap.
Ketahuilah,
rezeki bukan hanya roti yang mengenyangkan,
tetapi juga sabar yang meneguhkan, syukur yang menenangkan.
Ingatlah janji-Nya: “Wa man yattaqillāha yaj‘al lahu makhraja, wa yarzuqhu min ḥaythu lā yaḥtasib”
(QS. Ath-Ṭalāq: 2–3).
Maka jadilah hamba yang tak lelah bertawakkal,
niscaya Allah cukupkan semua kebutuhanmu.
Wahai darah daging ayah,
jangan biarkan sombong hinggap di dadamu,
karena ia adalah racun yang meruntuhkan amal.
Ingatlah pesan suci: “Innallāha lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr”
(QS. Luqmān: 18).
Berjalanlah rendah hati, sebagaimana bumi yang dipijak,
namun tetap memberi kehidupan.
Dan akhirnya,
jadikan cinta pada Allah dan Rasul-Nya
lebih dalam daripada cintamu pada segala sesuatu,
karena Allah berfirman: “Qul in kuntum tuḥibbūnallāha fattabi‘ūnī yuḥbibkumullāh”
(QS. Āli ‘Imrān: 31).
Ikutilah jejak Nabi, niscaya cintamu berbalas cinta
dari Yang Maha Pengasih.
Wahai putra-putri ayah,
jalan ini tak mudah, tapi jadikanlah Al-Qur’an sebagai sahabatmu,
dzikir sebagai nafasmu, doa sebagai sayapmu,
dan cinta Allah sebagai tujuan akhirnya.
0 Response to "Pelita Ayah di Jalan Hidayah, nasehat ayah Bag. I"
Post a Comment