Langkah Menuju Tanah Ḥaram
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Aku berjalan, wahai kekasihku Muḥammad ﷺ,
dengan langkah yang basah oleh dosa dan harapan.
Tanah Ḥaram memanggilku —
bukan karena aku pantas,
tapi karena Engkau pernah melangkah di sana.
Di setiap debu yang kujejaki,
aku mendengar gema ayat ini:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. az-Zumar [39]: 53)
Dan aku menangis, karena akulah yang dimaksud oleh ayat itu.
Aku yang melampaui batas,
namun masih dipanggil dengan lembut: “Yā ‘ibādī” — wahai hamba-hamba-Ku.
Wahai Rasulullah, Engkaulah Jalan Pulang
Engkaulah jalan pulang bagi jiwa-jiwa yang tersesat.
Engkau berkata:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Dan kini, aku datang dengan akhlak yang rusak,
menyusuri jejak langkahmu dari Bakkah yang suci,
mengharap sebutir akhlakmu jatuh ke jiwaku yang hampa ini.
Ka‘bah: Tempat Kembali dan Keamanan
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا
“Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan Baitullah tempat kembali bagi manusia dan tempat yang aman.”
(QS. al-Baqarah [2]: 125)
Maka aku pun kembali, wahai kekasih Allah,
dengan tubuh berdosa tapi hati yang ingin aman.
Setiap batu Ka‘bah seakan berkata:
“Tangismu adalah tamu yang diterima di sini.”
Tobat di Bawah Langit Makkah
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.”
(QS. an-Nūr [24]: 31)
Maka aku bertobat bukan karena takut pada neraka,
tapi karena malu di hadapan cintamu.
Betapa aku hidup dalam kelalaian,
sementara namamu disebut dalam azan,
dan aku tidak datang.
Ayat yang Membuat Dada Terbelah
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ، عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri, yang merasa berat atas penderitaan kalian.”
(QS. at-Tawbah [9]:128)
Aku membaca ayat itu di depan Ka‘bah,
dan aku tak kuasa menahan tangis —
bagaimana mungkin Engkau yang suci merasa berat atas penderitaan seorang pendosa sepertiku?
Engkaulah Pintu Pertama Sebelum Surga
Wahai Muḥammad ﷺ,
Engkau adalah pintu pertama sebelum surga,
Engkau adalah rahmat sebelum tobatku diterima.
Jika aku tak pantas mencium Hajar Aswad,
biarlah aku mencium tanah yang pernah menyentuh tapak kakimu.
Shalawat
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Penutup
Dan saat aku menatap ke arah Masjidil Haram,
aku berkata dalam hatiku:
“Wahai Rasulullah,
aku datang — bukan dengan langkah suci,
tapi dengan langkah yang mengaku kalah.
Bimbing aku seperti dulu Engkau membimbing para pendosa,
karena aku ingin kembali,
dan hanya Engkau yang tahu jalan pulang.”

0 Response to "Langkah Menuju Tanah Ḥaram"
Post a Comment