Jejak Cinta dan Rahasia Hati

Jejak Cinta dan Rahasia Hati

Wasiat ayah untuk putra-putrinya: tafakkur, dzikir, dan cinta kepada Allah sebagai hakikat hidup.

Wahai buah hatiku,
ketahuilah bahwa engkau diciptakan bukan untuk dunia,
tetapi untuk mengenal Tuhanmu.
Segala rupa yang engkau pandang hanyalah cermin,
dan wajah Allah adalah hakikat di balik segala rupa.

“Fa aynamā tuwallū fa tsamma wajhullāh”
(Maka ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah) — QS. Al-Baqarah: 115.

Jangan engkau tertipu oleh bayangan,
sebab bayangan akan sirna saat cahaya datang.
Peganglah dzikir,
karena dzikir adalah jalan pulang menuju Sang Kekasih.


Wahai putra-putriku,
jika engkau mencari dirimu, engkau akan hilang.
Tetapi jika engkau mencari Allah, engkau akan menemukan dirimu yang sejati.
Karena jiwa adalah rahasia-Nya,
yang Ia tiupkan ke dalam tubuhmu.

“Wa nafakhtu fīhi min rūḥī”
(Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku) — QS. Al-Ḥijr: 29.

Maka jangan engkau ikat hatimu pada dunia,
ikatlah pada Dia yang menghidupkan dunia.
Jangan engkau mengira jalan menuju-Nya jauh,
sebab Dia lebih dekat kepadamu
daripada urat lehermu sendiri.

“Wa naḥnu aqrabu ilaihi min ḥablil-warīd”
(Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya) — QS. Qāf: 16.


Wahai cahaya mataku,
dunia adalah kitab terbuka,
ayat-ayat Allah tersebar pada setiap dedaunan,
pada setiap hembusan angin,
pada setiap denyut jantungmu.
Bacalah ia dengan mata hati,
niscaya engkau temukan Allah di antara huruf-huruf keberadaan.

Dan akhirnya, wahai anak-anakku,
jadilah pencinta, bukan pemilik.
Karena engkau tidak memiliki apa-apa kecuali Allah.
Barangsiapa menempuh jalan cinta,
maka ia akan fana dalam keindahan,
dan baqā’ dalam keabadian.

“Walladzīna āmanū asyaddu ḥubban lillāh”
(Dan orang-orang yang beriman itu lebih kuat cintanya kepada Allah) — QS. Al-Baqarah: 165.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jejak Cinta dan Rahasia Hati"

Post a Comment