Jangan Salahkan Waktu, Salahkan Hatimu

Jangan Salahkan Waktu, Salahkan Hatimu

Langit malam kian larut. Angin mengalir pelan, membawa suara jangkrik dari balik semak.

Di langgar kecil yang temaram, kopi sudah tinggal ampas, tapi mata belum mengantuk.

Gus Muna merapikan sorbannya, menggeser kitab. Beberapa jamaah mulai selonjoran, ada yang nyandaran di tiang langgar, ada yang masih khusyuk mendengarkan sambil pelan-pelan ngudut.

Gus Muna (dengan mata separuh bercanda, separuh tajam):
"Saudara-saudaraku…
Tadi kita sudah bahas soal nyamuk, soal hidup dan mati.
Sekarang kita masuk ke perkara yang sering bikin orang keliru tanpa sadar.
Mas Samsuri, coba bacakan hadis tentang orang yang suka nyalahin waktu."

Mas Samsuri (dengan suara berat, setengah bergetar karena suasana mulai sakral):

"Rasulullah bersabda, Allah berfirman:
'Anak Adam menyakiti-Ku, dia memaki-maki masa.
Padahal Aku-lah yang menciptakan dan mengatur masa.
Di tangan-Ku-lah segala urusan, Aku yang mengganti siang dan malam.'"
(HR. Bukhari & Muslim)

Mas Tirman:
"Gus, maksudnya nyalahin waktu itu kayak gimana?"

Gus Muna (dengan gaya tasawuf, menunduk sebentar sebelum bicara):
"Saudara-saudaraku…
Ini penyakit batin yang halus tapi sering kita lakukan.

Kita sering bilang: 'Dasar zaman edan!'
Atau: 'Nasibku sial gara-gara zaman begini.'

Padahal, zaman itu nggak salah.
Masa itu nggak bawa sial, nggak bawa untung.
Yang bawa sial itu hati yang nggak sabar.
Yang bawa rugi itu diri sendiri, karena nggak ngerti siapa yang atur semua peristiwa."

Mas Rimbo:
"Berarti kalau ada orang ngomong: 'Zaman saiki rusak!' itu sama aja nyalahin Allah, Gus?"

Gus Muna (dengan gaya penceramah panggung, suaranya membahana tapi tetap lembut):
"Betul, Rimbo. Kalau kita maki-maki zaman, itu sama aja kayak nyelekit ke Allah.
Padahal Allah yang ngatur waktu.
Zaman berubah bukan karena waktu itu jahat, tapi karena manusia yang rusak.

Lha wong Allah yang muter siang dan malam, kok malah yang disalahin waktu?
Yang rusak itu bukan zaman, tapi watak."

Mas Amad (setengah bercanda):
"Berarti kalau orang ngomong: 'Zaman saiki angel golek sing jujur' itu sebenarnya bukan zamannya angel ya, Gus? Orangnya aja sing angel?"

Gus Muna (tertawa kecil, lalu nadanya menurun jadi lirih):
"Betul, Amad…
Zaman itu netral.
Siang dan malam itu jalannya tetap.
Yang berubah itu manusia di dalamnya.
Kalau hati rusak, semua tampak rusak.

Makanya jangan keluhkan zaman, perbaiki diri.
Kalau banyak yang ngeluh, tapi nggak ada yang berubah, ya tetep aja muter di situ-situ."

Mas Dede (sambil nyalain kamera hape, merekam obrolan):
"Gus, jadi kalau kita ngomong: ‘Duh nasib kok apes terus ya?’ itu juga termasuk nyalahin masa?"

Gus Muna (gaya sufi, suaranya pelan, menatap jauh ke langit-langit langgar):
"Dede…
Yang apes itu bukan nasibmu, tapi cara pandangmu.

Hidup ini bukan soal untung rugi di dunia.
Kadang Allah kasih ujian, bukan karena benci, tapi karena mau naikin derajat.
Kalau orang sabar, bisa naik maqam.
Kalau ngeluh terus, ya muter-muter kayak baling-baling patah."

Mas Kholil:
"Gus, aku pernah denger ada yang bilang: 'Semua ini gara-gara waktu. Nasib buruk datang karena masa.' Itu sama aja kufur nikmat ya?"

Gus Muna (dengan nada satire, separuh nyindir, separuh ngasih pelajaran):
"Lho ya jelas, Kholil…
Kalau kamu maki-maki waktu, berarti kamu nggak paham siapa yang ngatur waktu.
Itu sama aja nuduh Allah nggak adil.

Padahal Allah itu Maha Adil.
Siang dan malam digilir, kerajaan jatuh bangun, itu semua kehendak-Nya.
Kita yang harus pinter baca hikmah, bukan malah ngomel-ngomel."

"Jangan salahkan waktu yang berputar,
Yang layu itu bukan matahari,
Tapi hati yang tidak mau memperbaiki diri.
Siang dan malam hanyalah kendaraan,
Penumpangnya yang harus tahu jalan."

Latar Suasana Sebelum Sholawat

Langgar tua itu kini benar-benar sunyi. Rokok tinggal puntung, kopi sudah habis ampasnya.

Yang tersisa hanya gema suara hati yang pelan-pelan mulai sadar diri.

Angin malam mengelus jendela kayu yang retak-retak. Masing-masing menunduk.

Ada yang memejamkan mata, ada yang mencubit pahanya sendiri agar tak menangis.

Sholawat Penuh Mahabbah, Syauq, Raja, Khauf, Fana, dan Baqa

Gus Muna (dengan suara pelan, penuh getaran rindu):

"Ya Allah…
Kami bershalawat kepada Rasul-Mu,
Yang dengan cahayanya kami mengenal-Mu,
Yang dengan sunnahnya kami belajar berjalan.

Ya Rasulullah…
Kami ini umatmu yang penuh luka.
Kami sering keliru menyalahkan waktu,
Padahal Engkau mengajarkan kami untuk bersabar dalam cobaan.

Ya Allah…
Cinta kami masih retak-retak,
Rindu kami masih sering teralihkan oleh dunia.
Tapi malam ini kami datang dengan jiwa yang ingin bersujud lebih lama."

Latar Suasana Sebelum Doa

Cahaya lampu teplok makin redup, udara dini hari mulai terasa dingin menusuk tulang.

Suasana seperti ruang rahasia, antara dunia dan akhirat.

Semua diam, seakan menunggu bisikan langit.

Doa Penuh Mahabbah, Syauq, Raja, Khauf, Fana, dan Baqa

Gus Muna (suaranya nyaris seperti bisikan):

"Ya Allah…
Jika hidup ini penuh cobaan,
Jangan biarkan kami sibuk mengeluh,
Tapi sibukkanlah kami dengan dzikir.

Jika waktu terasa berat bagi kami,
Jangan biarkan kami mencaci masa,
Tapi ajari kami membaca hikmah-Mu.

Jika hati kami keras,
Lunakkan dengan cahaya-Mu.
Jika jiwa kami gelap,
Terangkan dengan rahmat-Mu.

Ya Allah…
Jangan palingkan wajah-Mu dari kami,
Walau kami sering berpaling dari-Mu.
Biarkan kami duduk lama di hadapan-Mu,
Sampai Engkau berkata:
'Aku telah ridha padamu.'"

Latar Setelah Doa dan Syair Penutup

Langit mulai membuka sedikit cahaya fajar.

Jamaah mulai berdiri pelan-pelan, ada yang mengusap mata.

Ada yang menyenderkan kepala ke tiang, seolah tak ingin pulang.

Mas Amad nyeletuk sambil cengar-cengir:

"Gus, malam ini kok hatiku kayak habis digoreng, terus dikasih madu."

Gus Muna (tertawa pelan):
"Yo ngono Mad…
Kadang hidup itu digoreng dulu, baru dikasih manisnya.
Kalau nggak panas, nggak meleleh egomu."

Mas Udin:
"Pokoknya jangan nyalahin zaman lagi, ya?"

Gus Muna:
"Betul, Din…
Zaman itu cermin.
Kalau mukamu asem, ya bayanganmu juga asem."

Semua tertawa, tapi dalam tawa itu, ada hati yang lebih jernih malam itu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan Salahkan Waktu, Salahkan Hatimu"

Post a Comment