Membaca Al-Fatihah: Membuka Gerbang Fana

Membaca Al-Fatihah: Membuka Gerbang Fana

Malam meluruh di Langgar Tua Terbis.

Suara jangkrik bersahut dari kebun belakang. Cempor redup menari di tiupan angin. Langit gelap, tapi hati malam itu penuh cahaya.

Para jamaah sudah kumpul di langgar. Duduk melingkar seperti biasa: Mas Abdul, Raden Broto, Mbah Komeng, Tubagus Juned, Aki Olot, Ujang Cecep, Lek Darto, Pakde Kromo, Juragan Keong, dan Cak Tejo.

Gus Ngalim datang dengan senyum tenang. Serban putihnya lusuh tapi harum, seperti daun jatuh dari pohon namun tetap membawa bau tanah surga.

Tauhid Awal – بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Gus Ngalim: "Para sedulur… malam ini kita buka pintu dengan Al-Fatihah. Tapi jangan dibaca seperti biasa. Mari kita masuk ke makna paling dalam."

"Bismillahirrahmanirrahim… Dengan nama Allah. Itu bukan basa-basi, itu kunci. Karena kalau masih pakai nama sendiri, berarti belum tauhid."

Mas Abdul: "Lha terus Gus, kalau saya mau makan gorengan, bilangnya gimana? Mas Abdul makan gorengan karena Allah? Kan aneh!"

Ujang Cecep: "Eh bener tuh Gus, masa gorengan juga pakai fana?"

Gus Ngalim: "Hehehe… justru gorengan itu juga fana, Kang Cecep. Yang penting bukan gorengannya, tapi niatnya."

Syukur – الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Gus Ngalim: "Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Semua puji milik Allah. Nah, sedulur, siapa di sini yang suka muji diri sendiri?"

Raden Broto: "Saya Gus… kadang-kadang. Ya gimana, saya ini kan keturunan keraton, Gus. Hehehe."

Mbah Komeng: "Lha aku malah keturunan wedhus, Gus. Tapi tetep muji diri sendiri juga, kadang-kadang."

Gus Ngalim: "Hehehe, Mbah Komeng… semua manusia punya kecenderungan pamer. Tapi ingat, yang layak dipuji itu Allah."

Mahabbah – الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tubagus Juned: "Itu mah asma sifat, Gus. Rahman sama Rahim."

Ujang Cecep: "Jadi gitu, Kang? Kalau saya makan gorengan, itu Rahman. Kalau saya ngasih gorengan ke temen, itu Rahim?"

Gus Ngalim: "Betul, Kang Cecep. Ngasih gorengan itu Rahim. Hehehe."

Khauf dan Raja – مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Lek Darto: "Lha trus Gus! Kalau kita udah baik, ibadah rajin, masa masih takut juga sama hari kiamat?"

Pakde Kromo: "Wes to, Lek Darto… wong sing bener ya kudu tetep wedi."

Gus Ngalim: "Betul, Pakde. Hari kiamat itu tempat semua rahasia dibuka. Bahkan yang kita kira amal baik, bisa jadi malah riya’."

"Aku takut kepada-Mu,
tapi juga rindu kepada-Mu,
Seperti anak kecil yang takut rotan ayahnya,
tapi tak mau jauh dari pelukannya."

Fana dan Isti’anah – إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Juragan Keong: "Gus, saya jualan keong, tapi juga sholat. Itu termasuk Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in juga toh?"

Gus Ngalim: "Ya betul, Juragan. Tapi hati-hati. Jangan sampe jualan keong lebih tulus dari sholatnya. Hehehe."

Talab – اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Aki Olot: "Gus, saya ini udah tua. Masih perlu minta jalan lurus?"

Gus Ngalim: "Justru makin dekat dengan liang kubur, makin penting minta hidayah. Hati manusia itu bolak-balik."

Mengikuti Jejak Kekasih Allah – صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Cak Tejo: "Gus, itu yang 'nggak dimurkai dan nggak sesat' itu siapa sih? Kok ngeri amat."

Gus Ngalim: "Yang dimurkai itu sombong, yang sesat itu malas belajar. Kita disuruh ikut jalannya para nabi, wali, orang shaleh."

"Jalan ini panjang,
tapi kami tak berjalan sendiri.
Kami ikut jejak para pecinta,
yang hidupnya hanya untuk-Mu."

Doa Penutup

"Ya Allah, limpahkan sholawat kepada Nabi Muhammad,
yang membuka pintu hati kami,
yang menuntun kami dari fana menuju baqa,
yang membawa kami dari gelap menuju cahaya."

"Ya Allah… Kami ini hamba-Mu yang lupa,
tapi malam ini kami sadar.
Kami ini butiran debu di lautan rahmat-Mu.
Bimbing kami di jalan yang lurus,
jauhkan kami dari jalan yang Engkau murkai,
dan jauhkan kami dari kesesatan."

Kata Bijak Penutup

"Imam Junaid berkata:
Jalan menuju Allah itu seperti berjalan di atas mata pisau,
tapi siapa yang mencintai-Nya, akan tetap berjalan walau terluka."

Suasana Setelah Majelis

Semua diam. Hati hening, dada terasa ringan.

Mas Abdul: "Gus… rasanya malam ini saya kayak bukan saya lagi."

Ujang Cecep: "Saya sih masih pengen gorengan, Gus. Tapi kali ini, gorengannya saya bagiin setengah. Biar ada Rahimnya."

Tawa kecil mengalir, tapi mata tetap basah.
Langgar Tua Terbis kembali hening, tapi hati mereka malam itu… penuh cahaya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Membaca Al-Fatihah: Membuka Gerbang Fana"

Post a Comment